Bagaimana jika suami kita di PHK?

Dunia seakan runtuh. Impian masa depan yang tertata rapi jadi goncang dan samar.


Mungkin itulah yang dirasakan mbak Alin, sapaan akrab Chandra Malini, seorang seniman daur ulang kertas yang menetap di kota Solo. Dulu mbak Alin dan keluarga tinggal di Timika, Papua. Suami mbak Alin bekerja sebuah perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat (AS). Selama bekerja di sana, banyak kenyamanan yang diperoleh. Contohnya saja gaji yang besar, fasilitas rumah dinas, sekolah gratis berstandar internasional, dan lain-lain. Mba Alin juga memiliki usaha online shop oleh-oleh khas Papua sehingga memiliki pemasukan ekstra.

Dok.@kertasbyalin

Kenyamanan tersebut terenggut karena adanya konflik internal yang menyebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Suami mbak Alin adalah salah satu korban PHK tersebut. Kondisi keluarga pun jadi terbalik 180 derajat. Kehidupan yang dulunya stabil berubah jadi tak pasti. Pemasukan tetap hilang dan harus ditopang oleh satu-satunya pemasukan dari online shop. Kondisi keluarga tentu sangat tergoncang. Perlu banyak penyesuaian dengan kondisi baru.


Menata Hidup di Kota Baru

Salah satu langkah awal yang diambil oleh keluarga mbak Alin adalah kembali pulang ke pulau Jawa. Solo adalah tujuan utama karena dekat dengan kota asal mba Alin dan suami, pun biaya hidup di Solo yang termasuk rendah. Mbak Alin mengontrak rumah di tepi kota, harganya masih cukup murah, sesuai dengan kondisi keuangan saat itu. Anak-anak yang awalnya sekolah formal beralih dengan pendidikan rumah (homeschooling) untuk dapat menghemat biaya.

Melukis di media komposter. Salah satu kegiatan homeschooling putri mbak Alin. Sekaligus untuk mengasah kreativitas mengajarkan tentang wirausaha. (dok. @kertasbyalin)

Berat? Tentu saja. Pendapatan suami yang membuka jasa servis elektronik tentu belum mampu menutup segala kebutuhan keluarga. Pendidikan dan pemenuhan nutrisi anak harus tetap terdepan, sehingga mau tak mau mbak Alin harus bekerja keras dan ekstra hati-hati dalam mengatur keuangan. 


Kebiasaan Menabung

Sejak dulu mbak Alin sangat teliti dalam mengelola keuangan keluarga. Beliau memiliki kebiasaan baik yang patut kita tiru, yaitu kebiasaan menabung. Setiap bulan mbak Alin membagi pengeluaran dalam beberapa pos, di antaranya adalah:

  1. Pos pengeluaran harian (makan, listrik, dll)
  2. Pos dana darurat
  3. Pos pendidikan anak (persiapan kuliah)
  4. Pos investasi (emas, buku, workshop)
  5. Pos cicilan 
  6. Pos sosial (tetangga/saudara menikah, meninggal dunia, donasi/sedekah)


Mbak Alin tidak memberikan detail alokasi keuangannya, namun beliau menekankan bahwa pos dana darurat sangat penting. Beliau bertekad bahwa setidaknya keluarganya (berjumlah 5 orang) harus bisa bertahan selama 6 bulan hingga 1 tahun jika ada hal buruk terjadi. Hal ini terbukti saat PHK terjadi. Mba Alin tidak perlu menjual aset apa pun karena masih ada simpanan. Lain halnya dengan rekan suami mbak Alin, rekan tersebut harus menjual beberapa aset berharga karena tidak mampu membayar cicilan rumah.


Saya teringat dengan salah satu unggahan akun instagram salah satu akun finansial. Untuk teman-teman yang ingin mencoba membagi pos-pos keuangan, mungkin bisa mencoba standar alokasi pendapatan bulanan dengan persentase berikut ini:

Sumber: @zapfinance



Mencari Jalan Rejeki dan Menjaga Bumi

Di awal memulai usaha mbak Alin memiliki online shop Timika Unique yang menjual oleh-oleh khas Papua. Ada kain batik Papua, asesoris, tas etnik, dan masih banyak lagi produk menarik lainnya. 

Produk yang dijual di toko oleh-oleh khas Papua oleh mbak Alin (dok.@kertasbyalin)

Setelah pindah ke Solo, sedikit demi sedikit beliau memulai langkah usaha baru yaitu di kesenian daur ulang kertas papier mache. Papier Mache di ambil dari Bahasa Perancis yang artinya " kertas yang di kunyah/dilumat", cara membacanya adalah "paper mashay". Jadi, di sini bubur kertas (pulp) dicampur dengan bahan perekat seperti lem, kanji, atau kain dan kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki hasil akhir yang estetis.

Selain gantungan kunci, kita juga bisa membuat gelang, vandel, magnet kulkas, dll menggunakan teknik papier mache. (dok.@kertasbyalin) 

Saat pandemi menghantam, usaha oleh-oleh khas Papua milik mbak Alin terpaksa di tutup karena mengalami kendala distribusi. Dengan demikian, mbak Alin harus kembali memutar otak untuk mencari sumber pendapatan baru.


Sejak awal mbak Alin memang merupakan pegiat pola hidup minim sampah. Kita bisa melihatnya dari papier mache yang sudah saya sebutkan di atas. Lalu beliau juga berkomitmen memilah sampah dan mengirimkannya ke bank sampah. Mbak Alin juga mengelola sampah minyak dan dikirimkan ke agen untuk selanjutnya diproses Pertamina menjadi biodiesel, kemudian beliau juga menggalakkan pengolahan sampah organik untuk menjadi pupuk kompos dan terakhir beliau juga aktif berkebun di rumah. 

Suami yang handy turut membantu proyek berkebun dengan metode hidroponik, bahkan mereka sempat memasarkan modul hidroponik di lahan terbatas melalui online shop-nya yang saat itu berganti nama menjadi Handmade by Chandra Malini.

Mba Alin dan suami sempat menjual modul hidroponik sebelum fokus membuat kertas daur ulang. (dok.@kertasbyalin)

Semangat untuk memanfaatkan kertas bekas dan mendaur ulangnya begitu besar. Mbak Alin yang memang gemar belajar hal baru ini akhirnya melakukan eksperimen. Dari bubur kertas yang biasanya dipakai untuk membuat papier mache, kini ia kembangkan menjadi kertas daur ulang.

Eksperimen menggunakan berbagai jenis kertas untuk membuat kertas daur ulang.
Mbak Alin juga bereksperimen penggunaan kertas daur ulang untuk media lukis, doodling, gambar, dll. (dok.@kertasbyalin)

Eksperimen warna menggunakan berbagai teknik dan bahan pewarna alami. (dok. @kertasbyalin)

Setelah menemukan ritme dan formula yang tepat, pada bulan Agustus tahun 2020 mbak Alin akhirnya mengambil keputusan untuk kembali melakukan rebranding usahanya yang kini disebut Kertas by Alin.


Teman-teman pasti menyadari bahwa harga kertas daur ulang lebih mahal dibanding kertas biasa. Lalu, memangnya ada yang beli?


Ya ada dong....


Mbak Alin yang memasarkan kertas daur ulang buatannya di marketplace dalam dan luar negeri. Tahu sendiri kalau pasar luar negeri itu legit banget bagi pengusaha dalam negeri. Selain mereka sangat menghargai karya seni dan peka terhadap isu lingkungan, mereka juga cukup loyal lho jika menyukai produk kita.

Untuk pelanggan dari dalam negeri, pelanggan mbak Alin datang dari kalangan hobby-ist dan seniman kaligrafi. Teman-teman tahu nggak, ternyata ada profesi kaligrafer janji pernikahan yang pendapatannya fantastis lho, jadi nggak heran kalau mbak Alin juga ikut kecipratan rejeki dari para kaligrafer tersebut.

Keindahan seni kaligrafi dan ilustrasi meningkatkan nilai ekonomi kertas daur ulang buatan mbak Alin. (dok.@kertasbyalin)

Dengan kondisi pasar yang cukup menjanjikan dan mendapatkan laba yang signifikan, mbak Alin mantab melangkahkan kaki menyambut rejeki sebagai seniman kertas daur ulang yang ikut serta menjaga bumi.


Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan dan Membuka Lembaran Baru

Kabar gembira saya dapatkan dari mbak Alin awal di bulan Maret 2022 ini. Setelah hampir 3 tahun sejak suami kena PHK dan banting setir membuka jasa servis elektronik, alhamdulillah suami mbak Alin kini bekerja di perusahaan tambang di Sumbawa, NTT. Memang kini mereka harus menjalani long distance marriage (LDM) dan mbak Alin harus menjadi solo parent, namun hal itu tak jadi masalah. Karena pada kenyataannya, kemapanan ekonomi kerap kali membutuhkan pengorbanan, Mbak Alin tidak sendiri, ada ribuan atau bahkan jutaan keluarga yang mengalami hal serupa (LDM) dan mereka bisa.


Kabar lainnya adalah mbak Alin kini punya rumah baru, hak milik, bukan lagi sebagai "kontraktor". Dengan rumah yang lebih lapang, kini mbak Alin memiliki ruangan kantor dan workshop memadai untuk memproduksi kertas-kertas daur ulangnya.

Kantor baru @kertasbyalin (dok.@kertasbyalin)

Memasuki bulan Ramadan dengan kondisi ekonomi yang makin stabil dan fleksibel tak membuat mbak Alin berfoya-foya. Hobi menabungnya makin tersalurkan dengan baik (hehehe...). Ada beberapa tips yang diterapkan mbak Alin untuk membantu kita mengendalikan pengeluaran di bulan Ramadan:


1. Hemat di mulai dari dapur

Dilansir dari Tribunnews.com, seorang perencana keuangan bernama Reny K Azhuri menuturkan orang cenderung boros saat bulan puasa. Hal itu karena banyak barang yang ingin dibelanjakan, terutama makanan.

Untuk mencegah pemborosan makanan, mbak Alin mengandalkan 2 hal. Mengkonsumsi hasil kebun dan mengolah sendiri makanannya. No jajan-jajan club. Nggak hanya bikin hemat, menanam dan memasak makanan sendiri dapat mengurangi jejak karbon plus kita bisa memiliki bahan makanan organik yang sehat. Untuk bahan pendukung biasanya beliau lebih memilih belanja di tukang sayur langganan. Tukang sayur jaman sekarang canggih lho, mau order bahan makanan apa saja bisa, tinggal kirim pesan whatsapp, hehehe...

Bubur Manado andalan, menggunakan daun gedi dan kemangi hasil berkebun. (dok.@kertasbyalin)

Kalau masak sendiri urusan kualitas tentu tak perlu diragukan, dijamin kualitas prima, nutrisi untuk anak pun dapat terpenuhi secara maksimal. Untuk mempermudah, maka mbak Alin menyusun menu harian. Kalau sudah fix, tinggal di eksekusi deh...


2. Komitmen dan konsisten mengelola keuangan

Jaman sekarang godaan mengatur keuangan ada banyak sekali, banyak promo e-wallet dan marketplace. Jika tidak bijak, maka pertahanan bisa jebol dan pemasukan amblas. Untuk mencegahnya, mbak Alin rutin membuat pembukuan manual menggunakan aplikasi excell. Komitmen dalam mengeluarkan dana juga harus dipatuhi. Mana yang dana yang perlu disimpan, mana yang perlu ditarik tunai. Lalu begitu tarik tunai, uang disimpan di dompet akordion berdasarkan pos pengeluaran.

Ilustrasi dompet akordion.
Sumber: Marketplace Blibli

Jadi tiap pengeluaran yang dilakukan harus sesuai slot dalam dompet akordion. Dana keluar sedikit boleh, tapi kalau kelebihan jangan ya, hehehe... Itu kata mbak Alin, saya cuma nyimak ^^


Memilih Asuransi Yang Tepat Agar Kondisi Keuangan Keluarga Mbak Alin Makin Kuat

Melihat kondisi kematangan mbak Alin dalam mengelola keuangan, bisa dipastikan bahwa kondisi keuangan beliau sehat dan kuat (insya Allah). Namun tak ada salahnya juga jika selain mengatur keuangan mbak Alin juga melakukan proteksi lebih untuk keluarganya. Kondisi pandemi semua serba tak terduga.


Asuransi Astra punya berbagai program untuk melindungi keluarga kita sesuai dengan kebutuhan. Salah satu perlindungan yang bisa digunakan mbak Alin adalah produk dari Garda Healthtech. Ada dua fitur menarik Garda Oto, yaitu Asuransi Kesehatan Rawat Jalan dan Asuransi Kesehatan Cashless.


1. Asuransi Kesehatan Rawat Jalan

Pada suatu hari mbak Alin pernah meminta rekomendasi dokter untuk anaknya. Anaknya sakit sudah beberapa hari. Biasanya nih, kalau dalam satu rumah ada anak yang sakit, maka anak-anak yang lain bisa tertular. Saya pun merekomendasikan sejumlah dokter. Ternyata biaya periksa ke dokter lumayan mahal, belum lagi biaya obatnya. Oleh karena itu mbak Alin cocok sekali menggunakan Asuransi Kesehatan Rawat Jalan dari Garda Oto Healthtech. Dengan membayar premi yang sangat terjangkau, mbak Alin bisa memperoleh manfaat kesehatan selama setahun penuh. Konsultasi bisa online dan offline, bisa klaim obat juga.

Mari kita periksa pilihan produk yang bisa digunakan untuk proteksi keluarga mbak Alin.


Kita bisa mendapatkan manfaat konsultasi offline dan online serta tebus obat yang diresepkan dokter dengan asuransi Garda oto Healthtech. Pilih sesuai kebutuhan ya...

Garda Oto Healthtech ini sistemnya online ya, berbasis aplikasi dan terafiliasi dengan aplikasi Halodoc, serta di bawah pengawasan OJK. Jadi kita tak perlu ragu, yakin no tipu-tipu


Salah satu yang dikhawatirkan banyak orang ketika akan mengikuti program asuransi adalah proses klaimnya. Tenang. Garda Oto Healthtech punya sistem klaim yang mudah kok. Check this out:

Ilustrasi rujukan dari konsultasi online menjadi konsultasi offline Garda Oto Healthtech



Kalau sudah yakin dengan fitur yang ditawarkan Garda Oto Healthtech mbak Alin dan teman-teman bisa langsung daftar lho. Caranya? Guampaang....


Nggak pernah nyangka ya, bermodalkan kuota dan handphone kita bisa mendapatkan proteksi asuransi yang keren banget seperti Garda Oto Healthtech ini.


2. Asuransi Kesehatan Cashless

Sejalan dengan semangat zero waste yang diusung mbak Alin, Garda Oto Healthtech ini memiliki sistem cashless. Artinya, proses transaksi dan klaim tidak menggunakan transaksi menggunakan uang tunai. Polis dan bukti pembayaran semua dilakukan tanpa menggunakan selembar kertas pun.

Pembayaran Garda Oto Healthtech bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Kartu kredit - full payment (langsung lunas)
  • Kartu kredit - installment 0% (cicilan)
  • AstraPay
  • Virtual Account Permata Bank

ilustrasi pembayaran premi garda oto healthtech

Setelah proses pembayaran terverifikasi kita akan mendapatkan e-polis yang dikirimkan langsung ke email kita. Praktis kan?


Garda Oto sendiri memiliki banyak sekali perlindungan yang ditawarkan dan bisa dinikmati sesuai kebutuhan.


Penutup

Menjadi solo parent dan menjalani LDM membuat kita tumbuh menjadi perempuan yang berdaya.

Mbak Alin, saya, dan teman-teman perempuan lainnya bukan manusia super. Namun saat kita sudah berperan sebagai istri dan ibu, apa pun akan kita lakukan untuk keluarga. Belajar hal baru, membatu mencari nafkah untuk keluarga. Semua mampu kita jalani dengan lapang dada. Apalagi di bulan Ramadan tahun ini. Setelah melewati masa pandemi lebih dari 2 tahun akhirnya kita bisa mudik dengan gembira. Syaratnya cukup vaksin dan disiplin protokol kesehatan. Benar-benar sebuah kabar bahagia.

Sejak pertengahan tahun 2021 mbak Alin kursus setir mobil dan tahun ini mengendarai mobil sendiri untuk mudik ke kampung halaman karena LDM dengan suami. New skill unlocked ^^ (dok. Facebook Chandra Malini)


Sedia payung sebelum hujan.

Mungkin terdengar klise, tapi merencanakan keuangan secara cermat merupakan langkah untuk melindungi diri kita dan keluarga dari masalah yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Komitmen dan konsistensi bisa menjadi kunci untuk mengatur keuangan keluarga agar tetap stabil dan kokoh.

Ada kalanya pengaturan keuangan yang baik perlu disempurnakan. Salah satunya dengan bantuan Asuransi Kesehatan Rawat Jalan Garda Oto Healthtech. Dalam kondisi pandemi dan di bulan penuh berkah ini, kita wajib melindungi keluarga kita dari hal tak terduga. Pun melindungi keuangan kita tidak bocor ke sana kemari. Di awal mungkin terasa berat, namun pernahkah teman-teman menghitung, dengan memilih premi maksimal produk Garda Oto Healthtech pun kita tetap untung. Dengan premi sebesar Rp1.200.000 kita akan mendapatkan proteksi kesehatan rawat jalan selama satu tahun. Kalau dihitung, per bulan kita hanya mengeluarkan uang Rp100.000 alias Rp3.333/hari untuk proteksi kesehatan. So worthed kan...

Mbak Alin dan kertas daur ulangnya. (dok. Facebook Chandra Malini)

Nah, gimana mbak Alin dan teman-teman? Sudah siap menjadi pahlawan keuangan keluarga dengan Asuransi Kesehatan Rawat Jalan Garda Oto Healthtech? Untuk info lengkap silakan berkunjung ke www.asuransiastra.com, www.gradaoto.com, atau berkunjung ke akun instagram @asuransiastra dan @gardaoto.


Sudah mencoba produk Asuransi Kesehatan Rawat Jalan Garda Oto Healthtech? Sharing di kolom komen ya... ^^



Salam Hangat,

sapamama


10 Komentar

  1. Wah menarik, jadi pingin workshop daur ulang kertas dengan mba alin, dan makasih sapamama info soal Gardaoto baru tau ini jd mau pelajari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah. Alhamdulillah jika informasi yang saya sampaikan bermanfaat kak. Coba DM ke ig @kertasbyalin aja kak, siapa thu beliau mau bikin workshop lagi.

      Hapus
  2. Aku baru tahu ada profesi kaligrafer janji pernikahan mba. Aku pernah belajar modern kaligrafi, mungkin bisa aku kembangkan ke arah sana ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, dicoba saja kak. Siapa tahu jadi jalan rejeki ^^

      Hapus
  3. MashaAllah~
    Perjuangan bangkit kembali untuk keluarga ini memang berdasarkan kebiasaan dari sebelumnya juga yaa..
    Dengan pengelolaan keuangan dan memutar segala hal, alhamdulillah menginspirasi lingkungan untuk mencintai lingkungan.

    Pendidikan terbaik untuk anak-anak.
    Dan beruntung sekali, kak Alin tinggal lingkungan ramah segalanya.

    Semoga dengan menambah pos asuransi kesehatan, kak Alin sekeluarga semakin kuat.
    Sukses selalu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin... Aamiin....

      Betul mba, dari kisah mba Alin jadi belajar banyak. Kebiasaan menabung dan spending nya itu lho... Keren.

      Hapus
  4. Woow, salut banget dengan perjuangan Mba Alin yang bisa mendaur ulang kertas jadi pekerjaan yang menghasilkan dan sekaligus menjaga alam. Jadi pengen belajar daur ulang juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk kak, selain bermanfaat untuk melestarikan lingkungan juga bisa jadi sumber pendapatan

      Hapus
  5. Kreativitasnya mbak Alin, memberikan dampak positif untuk diri dan keluarganya, apalagi pandai juga kelola keuangannya

    BalasHapus
  6. Gak semua org bisa bangkit kalau udah mengalami PHK gitu ya mbak. Keputusan yang bagus bisa bangkit lagi dan jd pengusaha sekaligus ikut andil menjaga lingkungan. Kalau dah gak jd karyawan emang kudu makin ekstra mengatur perencanaan keuangan ya.

    BalasHapus