Kota Solo dikenal sebagai salah satu kota pusat budaya. Kota yang istimewa ini memiliki dua keraton, yaitu Keraton Kasunanan dan PuroMangkunegaran. Kedua kekuatan besar ini pernah bersatu dalam Daerah Istimewa Surakarta (DIS) di awal masa kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu DIS dipimpin oleh gubernur Sri Susuhunan Pakubuwono XII dan wakil gubernur Sri Mangkunegoro VIII. Keberadaan DIS hanya sementara karena adanya revolusi sosial yang diusung Tan Malaka, oleh karena itu wilayah DIS tersebut berubah menjadi wilayah Karesidenan Surakarta yang kini dikenal dengan Solo Raya, terdiri dari Surakarta, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

 

Walau bukan lagi sebuah Daerah Istimewa selayaknya Yogyakarta, namun wilayah eks Karesidenan Surakarta ini masih memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Kita bisa menemui berbagai pusat kebudayaan yang masih berkembang dan terawat hingga saat ini.


1. Batik

Pusat batik di wilayah Solo Raya bisa kita temui di Kampoeng Batik Laweyan dan Kampong Batik Kauman yang terletak di jantung kota Solo. Sejak dulu hingga kini, banyak karya batik yang bisa kita nikmati di kedua kampung batik ini. Ada batik tulis, batik cap, batik kombinasi, bahkan kini ada batik warna alam yang dikenal lebih ramah lingkungan. Selain kedua kampung tersebut juga ada Kampung Batik Masaran di Sragen yang memiliki motif khas yang memukau.

 


2. Wayang Kulit

Wayang kulit lekat dengan budaya Jawa. Kesenian yang awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai metode asimilasi budaya ini masih dicintai masyarakat hingga saat ini. Desa Butuh di Klaten, Desa Kepuhan di Wonogiri, dan Desa Wirun di Sukoharjo dikenal sebagai penghasil wayang kulit berkualitas.


3. Gamelan

Gamelan adalah suatu perangkat alat musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi kesenian wayang kulit atau menghasilkan musik langgam Jawa. Satu set gamelan terdiri dari 26 alat musik yang dibanderol sekitar Rp 300 juta lebih. Nah, Desa Wirun di Sukoharjo selain sebagai penghasil wayang kulit juga dikenal sebagai penghasil gamelan yang handal.


4. Keris 

Selain batik, keris juga dikenal sebagai warisan budaya tak benda dunia yang sudah ditetapkan oleh UNESCO. Di Desa Wonosari, Karanganyar terdapat sebuah padepokan dan museum keris tempat empu muda menempa dan menghasilkan keris masterpiece. Di sana juga banyak koleksi keris lawas yang sudah berusia ratusan tahun.



Dari sebuah wilayah saja kita bisa menemukan keanekaragaman budaya. Apalagi jika melihat ke provinsi lain yang ada di wilayah Indonesia. Ada begitu banyak kekayaan budaya yang harus kita syukuri dan kita jaga eksistensinya. 

Nah, di antara keempat hasil budaya di atas, di artikel kali ini saya akan mengupas tentang keris. Alasan subyektifnya, karena memang kami hidup bersama keris dan merupakan suatu kebanggan bagi saya untuk berbagi pada teman-teman tentang apa yang kami miliki dan kami ketahui.

 


Keluarga dan Keris

Kami tinggal di tepi kota Solo. Beruntung kami tumbuh dalam lingkungan yang masih mengedepankan nilai luhur nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari. Sejak kecil kami sudah diajarkan untuk melakukan tirakat, menahan diri dari kehidupan duniawi untuk lebih dekat dengan Ilahi.

 

Sejak belia kami sudah dekat dengan Keris. Kakek kami tidak hanya memperkenalkan seluk beluk budaya Jawa, namun beliau juga mengajarkan kami pengetahuan tentang keris. Ada beberapa keris yang sudah lebih dulu dimiliki mbah dan masih terjaga dengan baik hingga saat ini. 

 

Salah satu saudara kami, Basuki, memutuskan untuk mempelajari dan berkomitmen dalam melestarikan dan mengabdikan diri dengan ilmu tentang keris sejak menempuh studi di perguruan tinggi, yaitu di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Beliaulah yang kemudian menjadi empu keris di padepokan kami.


Empu adalah sebuah gelar yang diberikan kepada seniman dan budayawan yang karya-karyanya tergolong mahakarya (masterpiece), terutama dalam bidang seni pembuatan keris. Seorang empu keris harus seorang seniman yang menguasai seni tempa, seni ukir, seni bentuk, dan seni perlambang. Empu keris juga merupakan seorang rohaniwan yang banyak berdoa, berpuasa, bahkan bertapa.



Kenapa Kita Harus Melestarikan Keris?

Untuk dapat memahami alasan itu, ada baiknya jika kita mengenal keris terlebih dahulu.

Makna Keris

Sudah menjadi kenyataan bahwa karya tosan aji yang paling menonjol adalah Keris. Keris merupakan senjata penusuk pendek, atau senjata tikam yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian bilah dan ganja yang melambangkan lingga dan yoni. Persatuan lingga dan yoni merupakan lambang harapan atas kesuburan, keabadian (kelestarian), dan kekuasaan.

 

Secara etimologi, dijelaskan bahwa keris sebagai artefak berasal dari gabungan dua suku kata, yaitu kata ke dari kata "kekeran", dan ris dari asal kata "aris". Kata kekeran memiliki makna "pagar, penghalang, peringatan, atau pengendalian", sedangkan aris memiliki arti "tenang, lambat, atau halus". Munculnya istilah keris ini diperkirakan dari bahasa Jawa Ngoko yang terbentuk melalui proses jarwa dhosok atau othak athik gathuk, yaitu ungkapan dalam bahasa Jawa yang menghubung-hubungkan beberapa kata sehingga dianggap memiliki arti tertentu. Dalam pemahaman ini, bahwa keris merupakan 'peranti' untuk kekerasan, lalu melalui pengertiannya yang diperhalus ini tersimpan harapan bahwa keris dapat berfungsi untuk melindungi pemiliknya dari ancaman yang bersifat fisik mau pun non fisik. Namun terdapat pendapat lain bahwa kata "keris"  yang berasal dari bahasa Jawa Kuno sebenarnya tumbuh dari akar kata kres dari bahasa Sansekerta.

 


Keris adalah suatu karya yang utuh dan memiliki karakteristik yang khas sehingga dapat dibedakan dengan tosan aji lainnya. Keris merupakan senjata tajam yang dilengkapi dengan warangka (penutup bilah) dan hulu (ukiran). Sebuah senjata dapat dikatakan sebagai keris jika memiliki tiga bagian pokok yaitu ukiran (hulu), warangka, dan wilahan (bilah).


Bagian-bagian Keris

Setelah memahami makna keris, marilah kita belajar tentang bagian-bagian keris. 

1. Bilah

Wilahan atau bilah adalah bagian pokok dari sebuah keris. Bilah keris memiliki banyak ragam bentuk atau tipologi yang disebut dengan dhapurDhapur keris merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tipologi bentuk keris berdasarkan rerincikan-nya.



Bagian lain dari bilah adalah pamor. Pamor dapat diartikan sebagai pancaran kekuatan karismatik dari seseorang atau benda. Secara umum pamor berasal dari kata amor yang artinya mencampur. Dalam dunia tosan aji, teknik pencampuran melalui pelipatan dan penempaan berbagai jenis bahan logam tersebut membuatnya menghasilkan ornamen baik abstrak atau figuratif yang disebut "pamor".

 

2. Hulu

Biasa disebut ukiran atau deder merupakan bagian pegangan dari bilah keris yang terhubung melalui pesi atau peksi yang berada di bagian bawah bilah. Umumnya hulu dihias dengan mendhak atau selut yang dibuat dari bahan logam mulia. Hulu keris biasanya terbuat dari kayu yang memiliki warna dan pola tertentu untuk meningkatkan nilai estetikanya. Namun ada juga hulu dengan bahan gading atau gigi geraham gajah, tanduk rusa, tanduk kerbau dan lain-lain. Bentuk hulu keris di Jawa merupakan stilisasi figur manusia (roh) atau flora dan fauna.


3. Warangka

Warangka adalah bagian penutup bilah. Di dunia perkerisan di luar Jawa, tepatnya di wilayah Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Sumatera warangka biasa disebut dengan istilah sarung keris atau sampir keris. Biasanya warangka dihiasi dengan pendok pada bagian gandhar-nya. Pendok sebagai penghias gandar terbuat dari logam seperti emas, perak, tembaga, dan kuningan sebagai pelindung sekaligus penghias warangka.




Pembuatan keris bersifat eksklusif, artinya setiap orang memiliki keris yang berbeda. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan sifat pada setiap diri manusia, sehingga keris milik si A tidak akan sama dengan keris si B. Oleh karena itu saat kita ingin membuat keris kita harus melalui proses konsultasi dan melalui rangkaian tahapan sehingga kita dapat menemukan atau membuat keris yang cocok dengan diri kita.


Saat akan membuat keris biasanya diperlukan serangkaian upacara wiwitan dan nantinya akan diakhiri dengan kirab pusaka.

 

Tiga Unsur Penting dalam Pelestarian Keris

Sebagai salah satu pusat pelestarian keris Indonesia, Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono memiliki 3 (tiga) pilar sebagai tonggak utamanya.

Pilar Pertama

Menghormati masa lampau dengan merawat keris yang dicipta oleh empu di masa lalu dan menyebarluaskan kepada masyarakat. Ini bisa dilihat dari koleksi keris yang ada di museum. Banyak diantaranya berasal dari masa Kerajaan Majapahit, Mataram, dan lainnya. Masyarakat pun bisa mengakses keris-keris yang luar biasa tersebut secara gratis. 


Pilar Kedua

Menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat. Kegiatannya meliputi aktivitas dalam workshop, seminar, penyebarluasan informasi melalui media buku, termasuk menulis beberapa buku tentang keris. Mengabadikan ilmu tentang keris ke dalam bentuk tulisan merupakan upaya menjaga budaya melalui literasi menulis dan membaca.

Berikut ini adalah beberapa buku yang telah ditulis :

Keris Naga, Keris Bali, Keris Lombok, Kujang, Keris Minangkabau, Keris Dholog, Keris Jawa, Ensiklopedia Keris, Mandau, dan lain-lain.

Selain buku berbahasa Indonesia kami juga memiliki buku dalam bahasa Inggris, yaitu Indonesian Kris – An Introduction dan Padepokan Brojobuwono, The Indonesian Kris Preservation Center.


Pilar Ketiga

Pembuatan keris-keris masterpiece, yaitu keris yang berkualitas tinggi. Beberapa keris untuk tokoh nasional dibuat di besalen Padepokan Keris Brojobuwono. Di antaranya ada keris Ki Naga Minulya yang dibuat dari lahar gunung Merapi dan sebuah keris untuk Presiden Joko Widodo yang digunakan dalam Kirab 1000 Keris di kota Solo pada bulan September 2019.



 

Menimba Ilmu Di Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono

Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono adalah nama padepokan keluarga kami. Padepokan sejatinya merupakan tempat para pemuda berguru (ndepok) untuk menimba ilmu dan berlatih ketrampilan pada seorang guru yang dipercaya memiliki ilmu dan ketrampilan tinggi. Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono diresmikan pada tanggal 26 Mei 2012. Jika dihitung dari tanggal peresmian usia museum kami baru menginjak 9 tahun 2 bulan, namun sesungguhnya praktik kami dalam mendidik generasi muda sudah berjalan jauh sebelum itu.

Lalu, siapa yang boleh belajar di Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono? Semua orang boleh belajar di sini. Siapa pun yang memiliki semangat dan niat tulus untuk belajar tentang keris kami terima dengan suka cita. Semua fasilitas di Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono dapat digunakan secara cuma-cuma. Yang perlu dicatat adalah kita harus senantiasa menjaga sopan santun, memperhatikan norma yang berlaku merupakan suatu keharusan, karena di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.

Melalui video ini teman-teman bisa memperoleh gambaran aktivitas empu keris dan proses pembuatan keris

Sumber: Kanal YouTube NetMediatama


Jangka waktu proses pembelajaran dalam membuat keris sangat beragam. Jika ingin mendalami ilmunya, maka diperlukan waktu belajar berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Semua tergantung pada pribadi murid tersebut. Jika ingin belajar secara singkat juga diperkenankan. Misalnya dengan mengamati workshop keris secara langsung dan melakukan wawancara dengan para empu keris. Sudah banyak sekolah dan universitas baik dari dalam dan luar negeri yang telah berkunjung dan belajar di Padepokan Keris Brojobuwono.


 

Keris dan Kelestarian Alam

Keris punya kaitan erat dengan alam. Bahan-bahan keris harus ramah lingkungan dan melestarikan dari berbagai bahan-bahan yang diperoleh dari alam. Salah satu upaya yang diambil adalah penanaman pohon-pohon langka, pengolahan bijih besi secara manual, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan suatu aspek untuk mencapai keseimbangan alam dan lingkungan. Di sisi lain, keris sering kali menggunakan unsur-unsur dari tulang atau tanduk dari binatang sementara ini menjadi bagian yang dilindungi. Oleh karena itu dengan upaya kelestarian keris ini bisa menjadi bagian membangun kesadaran masyarakat terhadap unsur-unsur binatang yang dilindungi dengan baik. Selain itu melestarikan kesadaran menangani alam semesta, contohnya dengan perhitungan pawukon, penanggalan, pranatamangsa, dan sebagainya, menunjukkan agar kesadaran manusia terhadap keberadaan alam senantiasa terbangun dengan selaras. Dari situ kita bisa melihat bahwa bagaimana kita menjaga lingkungan hidup dapat berkontribusi dalam memelihara keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.


Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan, begitu juga sebaliknya. Di dalam budaya Jawa menyebutkan tentang manusia yang memiliki hawa patang prakara (empat hawa nafsu) yang bisa gambarkan pada empat unsur alam yaitu Api, Bumi, Air, dan Angin.

  • Kamurkan/Kemurkaan pada unsur api merupakan penggambaran perilaku jahat, serakah, ambisius, suka marah, dan perilaku sejenisnya.
  • Kasantosan/Kesentosaan pada unsur bumi menggambarkan sifat yang abadi, mengabdi, nrimo, penurut, dan perilaku sejenisnya.
  • Kanepson/Kenapsuan pada unsur air bermakna duniawi, berahi, percintaan, kekayaan, dan perilaku sejenisnya.
  • Kawicaksanan/Kebijaksanaan pada unsur angin berarti bijaksana, berbudi luhur, menegakkan kebenaran, dan perilaku sejenisnya.

Dalam akultirasi budaya Jawa, keempatnya disebut sebagai Amarah, Aluamah, Sophiyah, dan Mutmainah.




Untuk dapat mencapai keseimbangan, manusia harus menguasai empat hawa nafsu tersebut dengan konsepsi Memayu Hayuning Bawana, yaitu manusia harus mampu menjaga keseimbangan dunia dalam arti luas, melestarikan alam semesta untuk kesejahteraan penduduk dan kehidupannya.

Dari situ kita anak menemukan suatu perenungan tentang nilai kautaman yang dimaknai luhurnya budi pekerti. Tanpa budi pekerti, manusia akan menyimpang dari perilaku luhur dan keluar dari konsep Memayu Hayuning Bawana, akibatnya banyak terjadi bencana alam, peristiwa-peristiwa alam ekstrim, kerusuhan akibat konflik ras dan agama, penindasan hak asasi manusia, dan sebagainya.

 

Menuliskan artikel ini membuat saya merinding sekaligus berefleksi. Apakah apa yang saya lakukan sudah cukup untuk merawat alam dengan perilaku luhur dan berbudi pekerti, atau justru saya masih menjadi manusia yang diliputi hawa patang prakara yang membuat alam kita rugi?

 

 

 

Salam Hangat,

sapamama

 

 

Sumber tulisan:

Wawancara dengan empu keris Basuki Teguh Yuwono


Buku:

Ensiklopedia Keris oleh Bambang Harsrinuksmo, 2011

Keris Indonesia oleh Basuki Teguh Yuwono, 2012

Panduan Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono, 2012

Tafsir Keris, Kris: An Interpretation oleh Toni Junus, 2012

 

Video:

Kanal YouTube NetMediatama


Website:

https://jatengprov.go.id/beritaopd/melongok-kerajinan-wayang-kepuhsari-wonogiri/

https://pariwisatasolo.surakarta.go.id/destinations/kampung-gamelan-wirun/

http://dlhk.jogjaprov.go.id/seri-pohon-langka-nagasari

https://kehati.jogjaprov.go.id

https://mediatani.co/ciri-ciri-pohon-cendana/

https://www.mongabay.co.id/2016/07/13/gaharu-adalah-jejak-sriwijaya-di-pesisir-timur-sumatera-selatan/

https://id.wikipedia.org/wiki/Katimaha

https://id.wikipedia.org/wiki/Kapuk_randu


39 Komentar

  1. Dulu waktu tau keris pertama kali, heran sama bentuknya yang beraneka ragam. Bisa jadi ada makna dari ukiran keris keris itu
    Dan ternyata dari keris juga termasuk langkah kita untuk ikut melestarikan alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak. Ini masih gambaran awal banget mengenai keris. Detailnya jauuuuuuh….lebih banyak jika dijelaskan. Kami bangga dengan keris yang menjadi salah satu dari sekian banyak keanekaragaman budaya Indonesia. Semoga dengan menyebarkan sedikit pengetahuan ini bisa memantik jiwa muda untu merawat keris, sekaligus merawat alam Indonesia.

      Hapus
  2. Ah..jadi kangen Solo.. Saat kecil sering ke rumah eyang di Manahan maupun Gremet, sering melihat eyang putri sedang membatik, menikmati wangi malam yg digunakan dan gemulai jari jemari beliau membatik motif2 rumit.. Kenangan indah masa kecilku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pandemi usai main ke solo mam. Sekarang transportasinya lengkap dan nyaman. Hotel dan penginapan juga banyak yang bagus dan murah.
      Museum di solo banyak yang modern, terasat, HTM terjangkau.

      Hapus
  3. makasih sharingnya, kekayaaan budaya indonesia memang perlu dilestarikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Terima kasih sudah berkenan mampir.

      Hapus
  4. Setelah tahu tentang keris, aku jadi pngen koleksi juga nich

    BalasHapus
  5. Wah, salut banget sama mbak Era yang keren tulisan tentang keris dibagikan di blog ini. Jarang sekali orang mengulas keris, kan? Dulu kakek dan buyutku juga memelihara keris. Dimandikan, diberi kembang dan sebagainya. Pernah satu keris diberikan ke papaku, namun akhirnya dikembalikan saja karena kayaknya repot banget memeliharanya dan khawatir ada 'isinya' walaupun kita ga boleh percaya hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mam, saya malah baru tahu ada istilah memelihara keris,hehe… Memang banyak sekali stigma dala masyarakat yang harus diluruskan.

      Hapus
  6. Samaan nih kak..keluargaku juga masih koleksi keris..terutama bapak..Banyak informasi budaya dan adat dari sebilah keris ya... dan itu harus dilestarikan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mam. Alhamdulillah jika masih menyimpan keris tersebut. Semoga budaya kita khususnya keris tetap lestari, aamiin..

      Hapus
  7. Ini lengkap banget ya tentang keris. Baru tau loh saya itu istilah-istilah dalam keris. Dan ternyata setiap lekukan seninya ada makna tersirat ya. Mba, keris-kerisnya tuh perlu dimandiin gitu juga ga sih di malam 1 suro? Jadi kepo deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau dibahas dengan detail kita bisa dapat gelar Sarjana, atau bahkan profesor keris Mam, hehehe… Istilah yang dikenal dalam masyarakat menyebutkan memandikan, namun sebetulnya, lebih kepada membersihkan, agar keris tetap bersih, tidak berkarat, dan sebagainya.

      Hapus
  8. Wah, kakak nya begitu erat dengan kebudayaan dan adat terutama solo dan keris. Yang Aku tau,
    Bagi masyarakat Jawa, keris memiliki makna dalam. Tidak hanya digunakan sebagai senjata, tapi juga pelengkap pakaian adat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mam, kalau dalam budaya Jawa, seorang pria wajib dikatakan mencapai kesempurnaan jika sudah memiliki 5 hal esensial, yaitu wisma (rumah), wanita (istri), turangga (tunggangan/kendaraan), kukilo (burung/hobi), dan curiga (keris).

      Hapus
  9. Mbak Era, kapan2 aku ama suami boleh main ke padepokannya nggak? Suamiku juga penyuka dan koleksi beberapa keris. Penasaran banget pengen liat cara bikinnya.

    Btw, mau meluruskan dikit nih, keberadaan wayang itu setahuku sudah ada jauh sebelum masa walisongo. Dan sudah menjadi pertunjukan rakyat di era kerajaan hindu budha. Sampai sekarang pertunjukan wayang yg mempertahankan pakem hindu budha juga masih ada kok. Tapi untuk kalangan terbatas. Biasanya cuma untuk ruwat. CMIIW

    BalasHapus
  10. Paling suka sama wayang kulit, tapi keris ini aku masih bengong walaupun ayah ku punya beberapa

    Bengongnya itu yaa karna selalu dengar kisah-kisah mitos yang beredar tentang keris

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama seperti banyaknya mitos seputar ASI atau ilmu pengasuhan, saat bicara tentang keris, kita juga akan menemui berbagai mitos yang sudah beredar kuat di masyarakat. Agar tidak salah informasi, maka kita bisa belajar dari sumber terpercaya, contohnya belajar dari Empu Basuki yang saya wawancarai di artikel ini.

      Hapus
  11. Penjelasan tentang keris yang sangat lengkap. Tulisan ini harus di-bookmark, sarat pengetahuan yang bagus untuk sumber bacaan tentang keris. Ternyata setiap bagian keris punya makna tersirat yang selayaknya dipahami. Dari sifat manusia itu sendiri sebagai individu, hubungan dengan sesama, hingga dengan lingkungan.
    Di rumah nenek saya di Sumatera, tersimpan sebuah keris yang pernah saya lihat sewaktu kecil. Dulu nggak ngerti itu buat apa, saya kira semacam pisau buat potong2 makanan atau apa gitu :D
    Entah masih ada apa nggak.
    Saya pernah lihat di TV, keris-keris dimandikan gitu, agak2 merinding juga liatnya kalau tampilkan dalam acara ritual tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya manusia, biasanya ada rasa takut terhadap hal yang tidak kita ketahui. Contohnya anak kecil takut mencicipi makanan saat pertama kali ia lihat. Tapi saat ia sudah merasakan makanan itu, ternyata enak, cocok di lidah, maka ia tidak akan takut lagi. Kita juga sama. Selama ini takut keris, merasa bergidik ngeri karena kita masih belum memahami. Kalau sudah mau belajar memahami, insya Allah ketakutan-ketakutan itu akan hilang.

      Hapus
  12. Mbak Era, komplit banget tulisannya... Memang kalau diresapi lagi, Budaya Jawa tu sangat memperhatikan keseimbangan alam. Selain itu juga tak pernah lupa untuk selalu mengingat dan menghadirkan Sang Maha Pencipta dalam setiap kegiatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mam, sejatinya memang kita hidup berdampingan dengan alam. Saling memberi, saling menerima.

      Hapus
  13. Menarik sekali mbak, membahas keris. Gak banyak yang paham tentang makna keris ya, hanya orang-orang tertentu. Saya sendiri orangnya penakut mbak. entah kenapa kalau lihat keris itu seperti ada mistisnya gitu heuheu padahal gak gitu juga ya mbak. Ini saya gara-gara sering nonton film dulu itu waktu kecil, jadinya kebayang-bayang keris bisa terbang hehe

    BalasHapus
  14. Wahhh ternyata mba Era dekat banget ya dengan lingkungan yang melestarikan budaya Jawa dalam hal ini Keris. Dulu waktu kecil lingkungan tetangga ada yang merawat keris dan dimandikan tiap malam 1 Suro. Nah yang kirab Keris itu terakhir ya dilakukan, sejak pandemi apakah masih ada?

    BalasHapus
  15. Ternyata keris itu bermakna sekali ya hingga bisa dijabarkan dalam beberapa buku pun belum tuntas, artikel mulai menarik banget jadi menambah wawasan

    BalasHapus
  16. Masya Allah saya jadi paham nih tentang keris yang kental sekali dengan budaya .

    BalasHapus
  17. Mahal juga ya set gamelan hampir 300 juta. Wow kebayang kalau panggil gamelan dan wayang kulit itu berapa tarifnya. pantas jadi masterpiece Indonesia

    BalasHapus
  18. Mantap nih artikel ditulis dari hasil wawancara dengan empu keris langsung. Setahu saya keris juga ada ribuan mandi atau semacam pelesatriannya ,tapi belum pernah liat langsung prosesnya. Nilai baik yang diajarkan untuk sopan santun ini adalah nilai kebaikan universal yg harus kita jaga

    BalasHapus
  19. ngomongin soal keris giniaku jadi inget alm. kakek aku Mbak, biasanya ngobrolin soal zaman dahulu, tentang kejawen, dan aku inget banget alm.kakek aku juga punya keris, tapi enggak tahu deh sekarang di mana. soal keris ini, menurut aku anak2 juga harus dikenalkan deh, soalnya banyak anak sekarang enggak tahu apa itu keris. anak aku sendiri enggak tahu loh apa itu keris, tapi kalau wayang dia tahu dan suka malahan

    BalasHapus
  20. Keris bukan sekedar senjata ya kalau istilahnya ada 'isi' nya. Ada filosofinya sejak dr pembuatannya. Ga heran perawatannya istimewa

    BalasHapus
  21. kalau di pulau jawa ada keris, di aceh ada rencong. bentuknya mirip tapj ga sama. jadi pingin nulis tentang rencong jugaaa nih

    BalasHapus
  22. Tulisannya bagus dan informatif :D
    Wah jd dapat pencerahan soal keris nih. Budaya asli Indonesia ya. DUlu mbahku juga punya keris gitu tapi gak tau skrng di mana, mungkin dibawa sama salah satu saudara.

    BalasHapus
  23. Baru kali ini saya membaca sejarah keris, mengapa harus dilestarikan, hingga cara pembuatannya. Salut karena bunda bisa menulis sejarah tentang keris dengan cukup lengkap dan menarik. Pastinya setiap nilai sejarah memiliki makna ya Bun, salah satunya dengan keberadaan keris ini.

    BalasHapus
  24. Zaman dulu, leluhurku masih menyimpan senjata khas tiap daerah.
    Keris, rencong, dan lain-lain.
    Tapi engga tahu sekarang dimana.

    Falsafah keris sungguh luar biasa yaa..
    Semua yang ada di dalamnya ada budaya asli Indonesia yang harus kita jaga kelestariannya.

    BalasHapus
  25. Indonesia yang kaya ya mak. kadang aku mikir kalau semua yang serba digital gimana masalah kekayaan budaya ya. tapi ternyata banyak masih yang pemerhati ya mak
    btw ini kan aku baru tahu sejarah keris loh btw

    BalasHapus
  26. Luar biasa mbak sharingnya. Baru kali ini saya baca sejarah keris. Aku dulu tinggal di dekat pande, jadi lumayan sering banget lihat proses membuat pisau,keris dan sejenisnya.

    BalasHapus
  27. Wah keris, aku dulu waktu kecil selalu amaze dengan keris. Tiap lihat rasanya gimana gitu. Almarhum bapakku kebetulan punya. Yang kecil gitu. Entah deh sekarang di mana. Udah lama gak lihat. Kangen juga deh lihat keris secara langsung :D

    Btw, bapak dulu sering cerita tentang pembuatan keris serta maknanya. Bisa begitu ya keris ini.

    BalasHapus
  28. Benda pusaka yang luar biasa ini sih.
    Keris harus dilestarikan ya mba, aku pernahmegang keris tuh pas nikahan kan suami dipakein keris gitu baru itu.

    BalasHapus
  29. Terima kasih informasinya mbak. Aku harus bawa anak-anakku mengunjungi Padepokan Keris Brojobuwono ini untuk mengenal dan belajar tentang salah satu senjata tradisional di tanah Jawa.

    BalasHapus