Aksi Nyata Mengurangi Dampak Perubahan Iklim



Apakah teman mama setuju bahwa hutan adalah kita. Tidak berlebihan jika kita mengatakannya. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menerbitkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK. 851/MENLHK-PKTL/IPSDH/PLA.1/2/2020 tanggal 26 Februari 2020 tentang Penetapan Peta Indikatif Penghentian Pemberian Izin Baru (PIPPIB) Hutan Alam Primer dan lahan gambut Tahun 2020 Periode I. Dengan begitu sebanyak 66,3 juta hektar hutan primer dan lahan gambut dipastikan terjaga dan tak akan ditransfer untuk pengelolaan lain.

Hal ini menjawab keresahan Davina Veronica, seorang public vigure yang juga penggiat lingkungan dan perlindungan satwa terutama orangutan. Disampaikan bahwa selama ini binatang dianggap sebagai sesuatu yang bukan prioritas. Binatang seperti pengungsi di mana mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Semua yang mereka miliki, habitatnya, rumahnya, diambil untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Padahal satwa mempunyai peran pentingnya masing-masing dalam ekosistem di mana mereka ikut melestarikan dan menyeimbangkan kesehatan alam di bumi. Manusia ada di bumi dengan populasi yang tidak terkontrol mengambil semua bagaikan semua ini milik manusia. Sejatinya penghuni bumi bukan hanya manusia, namun ada tumbuhan dan binatang di dalamnya. Bayangkan saja, jika hutan, lautan, tumbuhan, dan binatang habis, maka manusia tinggal menunggu gilirannya saja.

Pentinganya campur tangan semua pihak untuk perlindungan hutan
Sebelumnya, tidak ada UU yang secara spesifik melindungi hutan di Indonesia. Ada UU untuk melindungi satwa, namun jika habitat mereka tidak terlindungi, bagaimana mereka bisa tinggal? Oleh karena itu dengan terbitnya SK Menteri tentang Penetapan Peta Indikatif Penghentian Pemberian Izin Baru (PIPPIB) Hutan Alam Primer dan lahan gambut Tahun 2020 Periode I ini setidaknya rumah para satwa dapat dilindungi. Harapannya SK ini akan tetap bertahan walaupun ada perubahan tampuk kepemimpinan agar hutan, satwa, dan kita dapat tetap terjaga.

Teman mama tentu sudah tahu bahwa tanggal 7 Agustus ini merupakan Hari Hutan Indonesia. Dengan adanya hari hutan Indonesia, maka akan ada satu hari khusus dalam setahun di mana semua mata, pikiran, dan usaha masyarakat Indonesia tertuju pada hutan (hujan tropis) Indonesia.  Hari Hutan adalah hari di mana semua orang merayakan hutan hujan tropis Indonesia beserta semua kekayaan yang terkandung di dalamnya: air dan udara yang bersih, habitat berbagai flora dan fauna, sumber pangan, bahan obat-obatan, penyerapan karbon, hingga akar kebudayaan.

 Harus ada keterlibatan semua pihak untuk dapat melindungi alam Indonesia. Tidak hanya yayasan atau NGO (non goverment organisation), tapi juga dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Semua yang di bumi saling terkoneksi. Apa yang kita lakukan dan konsumsi punya dampak. Masyarakat urban yang tidak pernah menyentuh alam kerap kehilangan bonding/ikatan dengan alam. Itu, menjadi tugas kita untuk saling berbagi informasi dan tak lelah untuk mengingatkan betapa pentingnya menjaga hutan kita.

Perubahan iklim itu nyata
Dalam sejarahnya perubahan iklim telah menyebabkan kepunahan berbagai jenis satwa dan tumbuhan. Selain itu perubahan iklim juga merubah bentang alam bumi, merubah ekosistem, dan ekologi bumi.


Sebagai orang yang hidup di pedesaan yang menggantungkan hidup dari pertanian, yang sangat kami rasakan dampaknya adalah pergeseran musim. Contohnya saja musim penghujan di tahun ini yang durasinya lebih panjang menyebabkan musim kemarau jadi lebih pendek dari biasanya. Hal ini dapat memberikan dampak negative di beberapa daerah seperti terjadinya gagal panen karena air yang berlebih, kekeringan, ataupun hama. Hal ini akan member dampak pada ketersedian bahan pangan domestik Indonesia.

Di belahan dunia lain ada dampak lain yang dapat kita lihat, misalnya:
- Gelombang panas mematikan seperti yang terjadi di India.
- Meningkatnya pencemaran udara, di Beijing kita tidak akan dapat melihat langit cerah kecuali saat hari libur karena efek industri.
- Meningkatnya wabah penyakit menular. Kondisi pandemi Covid-19 kerap dikaitkan sebagai salah satu dampak pemanasan global.
- Peningkatan muka air laut menyebabkan bebepa daerah pesisir di Indonesia tertutup air lait dan jutaan warga terancam kehilangan tempat tinggalnya.
- Kepunahan terumbu karang diramalkan terjadi pada tahun 2100 dikarenakan suhu yang makin panas dan kadar asam lautan akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Tanpa terumbu karang, tidak akan ada ikan. Tanpa ikan tidak ada sumber makanan manusia.

Aksi nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim
Saya adalah anggota masyarakat, oleh karena itu hal termudah untuk mengurangi dampak perubahan iklim dimulai dari diri sendiri. Yang sudah saya lakukan diantaranya:

1. Menggunakan menspad dan menscup sebagai pengganti pembalut sekali pakai.
Pembalut sekali pakai adalah isu yang serius. Lebih dari 20 juta pembalut dan tampon sekali pakai mencemari lautan di dunia. Dengan mengeliminasi pembalut sekali pakai maka plutan di tanah dan alautan pun berkurang drastis.

2. Mengunakan clodi (cloth diapers) sebagai penganti popok sekali pakai.
Senada dengan penggunaan pembalut sekali pakai. Penggunaan popok sekali pakai (pospak) juga menjadi masalah sampah. Bayangkan saja jika satu bayi menggunakan 6 pospak selama 2 tahun.Ada sekitar 4.380 sampah pospak yang akan mencemari lingkungan. Padahal teman-teman pasti menyadari bahwa angka kelahiran di Indonesia cukup tinggi. Karena saya tidak bisa mengoah sampah itu menjadi sesuatu yang organik, maka saya hanya bisa mencegah penggunaannya.

3. Menjalankan pola hidup sehat dengan perbanyak makanan lokal dan rawfood.
Saya sendiri tidak menyangka bahwa pola hidup sehat adalah salah satu cara menjaga keberlangsungan bumi. Pola hidup di sini terutama pada pola makan. Dengan makan makanan plant based alias banyak konsumsi sayur dan buah, terutama makanan lokal dapat mengurangi emisi karbon. Proses memasak juga berdampak pada kondisi lingkungan. Perbanyak konsumsi rawfood artinya kita tidak melalui banyak proses memasak. Hemat energi.



4. Buy local.
Utamakan membeli produk sayur dan buah lokal. Indonesia adalah negara yang berlimpah sumber makanan, yang terbaik adalah yang ada di sekitar kita. Dengan tidak membeli produk sayur dan buah import kita juga membantu memperkuat ekonomi bangsa.

5. Membawa bekal.
Dengan membawa bekal selain menghemat uang belanja juga mengurangi menghasilkan sampah makanan kemasan. Membanjirnya industri makanan ringan ikut meningkatkan debit sampah. Padahal makanan kemasan juga tidak baik untuk kesehatan.

6. Kurangi dan kelola sampah.
Jika tidak bisa menghindari, maka sampah harus dikelola. Bisa saja kita membuat ecobrick untuk sampah plastik, membuat kertas daur ulang untuk sampah kertas, namun jika belum mampu maka saya lebih memilih untuk menyalurkan sampah ke bank sampah untuk dapat diproses daur ulang.

7. Keluarga Berencana.
Salah satu yang menyebabkan kerusakan alam adalah dampak dari popuasi yang tak terkendali. Dengan menjadi keluarga berencana kita dapat mengontrol populasi. Tak hanya 2, bagi saya, kini satu anak saja cukup. Anak adalah manusia, yang dari lahir hingga akhir hayatnya memiliki berbagai kebutuhan. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dari ketiga kebutuhan pokok ini saja dapat dibayangkan apa saja dampak yang ditimbulkan. Mulai dari pakaian yang dikenakan dari lahir hingga lansia, kemana saja limbah pakaiannya? Kebutuhan makan dan proses di dalamnya, dan tentu kebutuhan rumah tinggal yang banyak mengambil alih porsi lahan hijau terutama jika membangun pemukiman perumahan yang memerlukan lahan yang luas. Bukan hal baru jika kebun dan sawah lenyap menjadi "tanaman" baru yang tak terbarukan.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.



Salam Hangat,
sapamama



Sumber:
Kanal youtube Hari Hutan Indonesia
Webinar Suara Kita Tentang Perubahan Iklim: https://youtu.be/CJSMs2ufa2w

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Kesadaran kita emang masi minim banget. Ngerasa jadi yg paling hebat di bumi jd semena-mena ama yg lain. Aku juga blom bs berbuat banyak sih. Terutama utk coba menscup tuh.. Masi takut. Tapi kalo meminimalisir sampah udah coba kulakuin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, lebih baik berusaha walau sedikit daripada tidak sama sekali. Semangat demi masa depan anak kita...

      Hapus