Kartini di Masa Pandemi, Peran Perempuan Melawan Krisis Pangan


Tak ada yang pernah mengira bahwa kita akan berada di dalam suatu kondisi pandemi. Wabah yang merata dirasakan oleh hampir semua negara, tak terkecuali Indonesia. Data terkini per tanggal 28 April 2020 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pasien:
Positif 9511 orang (tambah 415)
Sembuh 1254 orang (tambah 103)
Meninggal 773 orang (tambah 8)
Jumlah Test Realtime PCR dari 79.618 spesimen di 48 laboratorium.
Sumber data : Gugus Tugas PP Covid19.
Situs resmi dari Kemenkes dapat di akses di sini

Sedangkan untuk wilayah Solo Raya per tanggal 28 April 2020 tercatat angka:
Positif 107 orang (tambah 4) Sukoharjo 3, Sragen 1
Sembuh 15 orang (tambah 3) Sukoharjo 2, Solo 1
Meninggal 11 orang (tambah 1) Karanganyar 1
Sumber data : Dinkes, Gugus Tugas & Pemkab.
Situs resmi dari pemerintah Jawa Tengah dapat diakses di sini.

Dapat kita lihat bahwa semakin lama angka pasien positif di Indonesia pada umumnya sudah mengalami kenaikan. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Tak hanya tentang menjaga keselamatan keluarga dari Covid-19, namun bagaimana kita dapat bertahan secara ekonomi di tengah pandemi.

Adanya musibah ini memberi tamparan keras pada perekonomian banyak keluarga. Ada suami-istri yang harus Working From Home menyebabkan pengurangan gaji & peniadaan Tunjangan Hari Raya (THR), ada yang harus ditunda proyek proyeknya hingga batas waktu yang tak dapat ditentukan, berkurangnya omset usaha tak sebanding dengan modal usaha, order menurun drastis, cicilan yang tetap harus dibayarkan, bahkan yang paling ekstrim adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal yang sulit ini akan makin terasa sulit jika tidak dibarengi adanya dana darurat dalam keuangan keluarga. Apalagi untuk keluarga yang mendapatkan upah harian, bisa jadi mereka tak memiliki kesempatan memikirkan menabung, apalagi berinvestasi, untuk dapat makan sehari-hari saja mereka sudah bersyukur dan berjuang keras dari fajar hingga petang.

Di saat seperti inilah kecakapan sebagai pengurus rumah tangga, siapa lagi jika bukan istri, ibu, perempuan yang menjadi manager seluruh aspek keluarga. Tak usah muluk berpikir tentang hal yang sekunder apalagi tersier. Salah satu yang paling penting adalah pemenuhan kebutuhan primer sandang, pangan, dan papan. Dalam kesempatan ini saya ingin bercerita mengenai dua orang teman saya, dua orang kartini masa kini. Ibu dengan semangat dan kreativitas tanpa batas. Keduanya berhasil mencuri hati saya dan tak bisa untuk tidak angkat topi akan aksi mereka di tengah pandemi ini.

Yuk kenalan...

1. Ibu Chandra Malini.

Beliau adalah seorang wirausahawati. Usaha beliau di bisnis asesoris dan kerajinan dari tanah Papua dan daur ulang kertas yang biasa disebut Papier Mache. Beliau juga merupakan praktisi sekolah rumah (homeschooling) bagi 3 orang putra dan putri tercinta. Memasuki masa pandemi ini order turun drastis, apalagi sejak Papua menutup akses dari dan ke Papua, maka otomatis bu Chandra memiliki kesulitan dalam melakukan aktivitas niaganya.


Sumber : Facebook Handmade By Chandra Malini

Tantangan ini tak membuat beliau putus asa. Sembari belajar menjahit dengan mesin jahit barunya, beliau mencoba peruntungan dengan usaha baru yaitu memproduksi masker kain dan keranjang belanja. Beliau juga makin giat dengan aktivitas untuk menjaga ketahanan pangan dari rumah, yaitu berkebun. Selain dengan metode konvensional yang memanfaatkan limbah plastik bekas minyak & sabun cuci piring, bu Chandra juga berkebun dengan metode Hidroponik yang baru dipraktikkan di masa pandemi ini. Ternyata hasilnya cukup baik.
Sumber : Facebook Ibu Chandra Malini

Dalam prosesnya, beliau dibantu oleh suami tercinta yang terampil dalam menciptakan perkakas dan tentu dibantu juga oleh putra-putrinya juga. Nah, karena beliau seorang homeschooler maka rangkaian aktivitas ini merupakan pelajaran nyata yang dapat diajarkan kepada anak-anak. Survival skill. Selain memproduksi bahan pangan, bu Chandra juga kerap mengajak putra-putrinya untuk mengolah makanannya sendiri seperti pembuatan roti, pizza, saus, minyak dan sebagainya.


2. Ibu Richi Sofiani

Tak jauh berbeda dengan ibu Chandra, ibu Richie juga merupakan praktisi homeschooling bagi ketiga putra beliau. Sejak semula ibu Richie memang sering sekali membuka kelas memasak seperti membuat tempe homemade, keju homemade, Virgin Coconut Oil (VCO) homemade, sosis homemade, tauco dan kini beliau membagi ilmunya tentang makanan alternatif.
Tempe Homemade Richie Sofiani

Beliau sekaigus mengajarkan kepada anak apa itu foraging, yaitu mencari makanan alternatif di lingkungan kita. Dengan foraging kita dapat lebih mengenal alam secara personal, semakin peduli dan mengenal apa saja manfaat tumbuhan di sekitar kita. Anak dapat belajar untuk memahami mana tumbuhan yang dapat menjadi makanan alternatif, mana yang tidak.

Sumber : FB Richie Sofiani

Bagi kita sendiri ini juga merupakan angin segar, ternyata alternatif protein dapat kita peroleh dari berbagai tanaman yang tak kita duga. Saya pun terkesima dengan Plant Protein ini, hahaha...


Demikian perkenalan kita hari ini dengan dua Kartini milenial yang kreatif tanpa batas. Semoga apa yang saya tuliskan dapat menjadi inspirasi.

Terima kasih Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang memantik saya untuk menulis sedikit tentanag dua orang perempuan luar biasa di sekitar saya.

Salam Hangat,
sapamama




Posting Komentar

2 Komentar