Minggu, 08 September 2019

Tips Mengatur Keuangan Bisnis dan Keluarga dari #ibuberbagibijak2019 Untuk Meraih Kebebasan Finansial

Dulu saya pernah mencoba peruntungan di bidang bisnis dengan berdagang. Mulai dari menjadi reseller makanan kecil, berjualan batik, berjualan skincare dari Korea, hingga bisnis MLM (multilevel marketing). Namun akhirnya bisnis tersebut harus kandas sebelum berlayar. Setelah saya selidiki dan saya cek, ternyata berdagang bukanlah passion saya. Namun, ada satu hal terpenting yang memang membuat saya gagal. Apa itu? Tidak mampu mengelola keuangan usaha.

Mungkin apa yang terjadi pada saya ini hanyalah sedikit dari banyaknya kegagalan membangun bisnis karena ketidakmampuan dalam mengolah keuangan bisnis. Wanita wirausaha masa kini patut berbangga, beruntung sejak 2017 Visa Indonesia hadir ke tengah-tengah kita untuk memberikan edukasi seputar literasi keuangan. Program edukasi ini kemudian disebut dengan #ibuberbagibijak. Untuk informasi terkini, kita bisa men-follow akun instagramnya di @ibuberbagibijak.

Edukasi literasi keuangan ini telah diberikan kepada lebih dari 300.000 wanita pelaku usaha (womenpreuneur) di Indonesia sejak tahun 2017. Jika pada dua tahun sebelumnya Visa mengadakan edukasi literasi finansial ini hanya di kota Jakarta, tahun 2019 ini Visa juga membagikan ilmu literasi finansial di kota Yogyakarta.


Edukasi literasi finansial yang diadakan pada 3 September 2019 ini bertajuk Workshop Literasi Keuangan #ibuberbagibijak2019. Acara yang diselenggarakan oleh Visa Indonesia ini digelar di Roaster and Bear Restaurant dari pukul 10.00-13.00 WIB dengan dihadiri perempuan/ibu rumah tangga, komunitas online (The Urban Mama & Komunitas Emak Blogger) dan perempuan pelaku UMKM (Dekranasda).

Dalam acara yang istimewa ini hadir bersama kami Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia Bapak Riko Abdurrahman, Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank, Pasar Modal, & Efek OJK (Otoritas Jasa Keuangan) DI Yogyakarta Bapak Noor Hafid, Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi, UKM. & Nakertrans Kota Yogyakarta sekaligus Wakil Dekranasda Kota Yogyakarta Ibu Rihari Wulandari, serta Financial Educator Prita Ghozie.



Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita pahami dulu, kenapa Visa menyasar perempuan Indonesia untuk mendapatkan edukasi literasi keuangan?
  • Ternyata....

Walaupun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai angka 29,6% di tahun 2016 (naik 7,8% sejak 2013), namun tingkat literasi keuangan perempuan jauh lebih rendah dibanding laki-laki. Kemampuan literasi laki-laki di Indonesia sebanyak 33,2%, sedangkan tingkat literasi perempuan sebanyak 25,8%.
  • Apa sih istimewanya #ibuberbagibijak?
  1. Melibatkan komunitas, terutama perempuan
  2. Mengusung konsep "train the trainers", mengedukasi dan mendorong perempuan agar dapat berbagi pengetahuan dengan anggota keluarga, kerabat, dan tetangga.
  3. Memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai pentingnya iterasi keuangan

Perempuan merupakan sosok yang luar biasa, terutama ketika dia memiliki tujuan dan semangat untuk memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Perempuan juga suka berbagi cerita dengan sesamanya, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan pertemanannya. Oleh karena itu, semakin banyak perempuan yang mendapatkan edukasi dari #ibuberbagibijak, maka akan semakin luas dampaknya di masyarakat. 

Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia mengatakan, "Kami senang bisa bekerjasama dengan OJK dan BI untuk memperluas program #ibuberbagibijak dengan menggandeng para pelaku usaha perempuan dan UMKM. Kami meyakini bahwa mereka adalah salah satu pihak yang dapat berperan besar daam mendorong pertumbuhan ekonomi danmenciptakan lapangan kerja di masa mendatang."

Sementara itu, Ibu Rihari Wulandari menuturkan, "Sebagai pihak yang lekat sekali pada budang kewirausahaan, kami merasa sangat terbantu dengan adanya program #ibuberbagibijak. Antusiasme kami terhadap program ini sangat tinggi karena kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Apabila dalam berkreasi membuat usaha rumahan tidak disertai pengetahuan dan pemahaman literasi keuangan yang baik, maka keuntungan yang didapat tidak akan maksimal, bahkan bisa menyebabkan cashflow berantakan. Kami sangat berterima kasih kepada Visa karena sudah melibatkan kami di program #ibuberbagibijak yang sarat manfaat, bukan hanya untuk keuangan usaha, tetapi juga keuangan keluarga".


Kali ini kami belajar dari belajar secara langsung dari Prita Ghozie, salah satu financial educator kenamaan yang didapuk untuk memberikan edukasi pada #ibuberbagibijak2019. Sebelum mulai melangkah merintis usaha, ada bainya jika kita memperhatikan beberapa faktor, diantaranya :

1. Menentukan Usaha
Terdengan simple tapi sangat krusial. Banyak orang yang melakukan kekeliruan dalam langkah awal ini. Misalnya pada kasus saya yang telah disebutkan diatas. Kegagalan saya di awal usaha ternyata berasal dari ketidakmampuan saya menentukan jenis usaha yang cocok. Fill your passion. Jalankan usaha sesuai dengan hal yang anda sukai. Jika kita suka berdandan dan menyukai make-up, kita bisa melirik usaha sebagai make-up artist (MUA). Jika suka menggambar free hand atau digital kita bisa mencoba usaha sebagai ilustrator, dan masih banyak contoh lainnya. Dengan melakukan hal yang membuat kita bahagia, maka kita akan memiliki lebih banyak stok semangat saat menghadapi masalah dalam mengembangkan usaha kita.

2. Belajar Untung-Rugi
Saat usaha kita masih kecil dan tipis sekali antara modal dan hasil, seringkali kita kesulitan dalam membedakan untung dan rugi.Oleh karena itu kita harus belajar memisahkan antara keuangan pribadi dan usaha. Kita juga harus memiliki catatan kas dan belajar mengenai modal, investasi, dan biaya.

3.Pertimbangan Lain

Di sini kita bisa mencari alternatif dalam mengambil suatu keputusan, misalnya apakah jenis usaha yang akan dilakukan secara mandiri atau sistem franchise? Modal usahanya apakah dari modal pribadi atau bekerja sama dengan yang lainnya.


Di awal merintis usaha kita juga harus dapat :
1. Memahami Modal & Kebutuhan Dasar

2. Mempertimbangkan Kunci Dalam Usaha

Ada 3 (tiga) alternatif pendanaan yang disarankan :
1. Bank
2. Lembaga Keuangan (multifinance)
3. P2P Lending (Pinjaman Online)

Pinjaman Online merupakan jenis pinjaman yang sangat digemari belakangan ini. Bapak Noor Wachid, perwakian dari OJK juga menyampaiakan pesan terkait dana pinjaman online. Ada yang harus kita perhatikan dalam menggunakan pinjaman online, yaitu dengan memperhatikan prinsip 2L (Legal & Logis).
Legal : Cek status lembaga tujuan pinjaman online kita di www.ojk.go.id untuk memastikan status lembaga keuangan tersebut terdaftar di OJK.
Logis : Cek syarat dan ketentuan, pastikan bunga pinjaman dll dapat diterima akal sehat dan tidak berlebihan.

Prita Ghozie menekankan bahwa, untuk usaha yang berusia kurang dari 12 bulan TIDAK DISARANKAN memiliki pinjaman.

Yang perlu dipahami juga oleh pelaku usaha baru adalah kita harus menyiapkan diri untuk dapat mendanai usaha kita selama 12 bulan ke depan. Biaya tersebut untuk membantu operasional bisnis yang masuk dalam kategori biaya tetap.

Jika usaha awal sudah muai terbangun, maka saatnya kita belajar mengenai:
1. Arus Kas Usaha.
Modal & Omzet (Pendapatan) di masukkan dalam kas utama. Dari kas utama digunakan pada tiga bentuk pengeluaran, yaitu : Pembayaran pinjaman, pembelian barang/modal usaha, dan operasional usaha (misalnya : listrik, air, gaji karyawan).

2. Memahami Situasi Keuangan
Kita harus mengetahui kondisi usaha kita, apakah mendapat keuntungan (profit), rugi (loss), atau seimbang (break even)

3. Mengukur Situasi Keuangan
Gunakan financial analysis yang terdata dengan baik, bukan menggunakan feeling analysis (berdasar perasaan kita yang seringnya kurang tepat dan denial terhadap fakta)

4. Laporan Keuangan Usaha
Buat Neraca (Balance Sheet), Laporan Laba-rugi (Income Statement), dan catatan atas laporan keuangan.

Lalu, untuk mencapai keuangan yang ideal ada beberapa hal yang harus kita lakukan, diantaranya :
1. Melakukan Financial Check Up
- Apakah kita memiliki utang?
Jika iya, apakah utang itu produktif? Pastikan juga nilai cicilan utang dibawah 30% dari pendapatan.
- Apakah biaya hidup < pemasukan?
Biaya hidup maksimal 50% dari pemasukan. Kita juga harus paham prioritas pengeluaran sehingga lebih terkendali. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.
- Apakah Sudah memiliki dana darurat?
Idealnya dana darurat bernilai 3x pengeluaran rutin dan berbentuk kas.
- Apakah kita memiliki tabungan?
Buat beberapa jenis tabungan. Pisahkan antara tabungan untuk rencana dengan investasi masa depan.

2. Mengelola arus kas
Harus ada pemisahan kas usaha dan kas keluarga agar segala aktivitas keuangan dapat terdokumentasi dengan baik. Rekening usaha dan rekening pribadi pun harus terpisah. Yang harus kita ingat adalah, walau kita berstatus sebagai wirausaha, jangan lupa untuk mengalokasikan pengeluaran rutin untuk menggaji diri sendiri. Bagaimana jika kita seorang freelancer? Dengan menetapkan standar gaji diri sendiri bisa saja hal tersebut memacu kita untuk berkarya dan bukan sekedar berdiam diri saja.

3. Merencanakan keuangan
Jika keuangan kita sudah semakin rapi dan baik, kita bisa menuju perencanaan keuangan untuk beberapa keperluan lain, yaitu:
- Zakat 
- Assurance 
- Present consumption
- Future spending
- INvestment

Bapak Noor Wachid dari OJK juga memberikan nasehat pada  peserta workshop untuk berhati-hati dalam memilih instrumen investasi. Gunakanlah intrumen yang benar-benar anda pahami agar tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.


Dana untuk investasi juga harus dialokasikan secara bijaksana. Gunakan metode SISIH, bukan SISA. Apa itu?
Dari pendapatan kita sebaiknya langsung sisihkan untuk investasi, uang yang tersisa kemudian kita alokasikan ke dalam pengeluaran bulanan.

Seperti yang telah kita ketahui, acara Workshop Literasi Keuangan #ibuberbagibijak2019 ini diselenggarakan oleh Visa. Nah.... Berikut ini ada 8 hal yang harus kita ketahui tentang visa :
8 Hal Yang Harus Diketahui Tentang Visa

Indonesia Tanpa Uang Tunai
Metode pembayaran tanpa uang tunai semakin digemari oleh generasi milenial. Ada banyak promo menarik ditawarkan sehingga makin menggoda untuk menggunakannya. Kemajuan teknologi juga sangat mempengaruhi hal ini. Studi Consumer Payment Attitudes 2018 menyebutkan, sebanyak 8 dari 10 sudah mencoba bepergian tanpa uang non tunai. 

Menjalani gaya hidup non tunai menjadi lebih mudah dan menarik bagi masyarakt Indonesia karena banyak opsi cara membayar, mulai dari pembayaran menggunakan kartu., teknologi nirkontak, hingga berbasis QR code. Konsumen juga menginginkan proses pembayaran yang lebih cepat, mudah, dan aman yang mendorong mereka semakin mengurangi penggunaan uang tunai & memulai gaya hidup non tunai," ujar Riko Abdurrohman, Presiden Direktur PT.Visa Worldwide Indonesia.

Keamanan bertransaksi menggunakan uang non tunai tetap menjadi prioritas. "Studi Consumer Payment Attitudes yang dirilis Visa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk bepergian tanpa uang tunai, dengan keamanan informasu pribadi menjadi fokus utama mereka. Karenanya, Visa nerkomitmen untuk menghadirkan teknologi pembayaran dan keamanan digital terbaru seperti Visa Contactless dan Visa Token Service, agar konsumen dna pelaku usaha di Indonesia dapat semakin percaya diri saat bertransaksi," kata Riko Abdurrohman, Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia.

Saya pribadi menyambut baik kabar tersebut. Semoga kedepannya segala proses dapat terlaksana dengan mudah dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia


Salam hangat, 
sapamama









Previous Post
Next Post

post written by:

Sapamama merupakan sebuah blog pribadi yang hadir untuk berbagi energi positif bagi wanita Indonesia. Hubungi kami di email: erasoloraya@gmail.com

3 komentar:

  1. Sebagai pedagang online, salah satu kebiasaan yang menurut saya penting adalah mencatatat keuangan usaha sehingga bisa dimonitor. Nah kebiasaan ini kadang naik turun, krn kesibukan dengan kegiatan dirumah, kadang terlewatkan hehehe. Maka mulai bulan ini saya mulai nyatat keuangan dibuku. Semoga bisa lebih konsisten. Sebelumnya saya mencatat menggunakan excell namun saya harus buka laptop dan pengalaman ga selalu bisa...lalu saya beralih ke buku jadi setiap transaksi online, saya cukup catat dibuku saja...saya juga bisa sekalian coret-coret dibuku tersebut pekerjaan-pekerjaan / email apa saja yang mesti dijawab.

    Perencanaan keuangan penting sekali, karena pengalaman hidup saya mengajarkan hidup itu penuh dengan kejadian yang tidak terduga jadi kita mesti antisipasi. Untuk pemula, lakukan bertahap dulu misalnya menyisihkan tabungan pendidikan untuk anak/pensiun/jika kita mengiginkan suatu barang namun tidak ingin mengganggu arus kas bulanan....jika dirasa ada manfaatnya biasanya kebiasaan ini akan berlanjut.

    seek for progression not perfection...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berbagi. Sukses selalu...;)

      Hapus