Refleksi Tengah Tahun - Random Thought - Apa yang sudah aku lakukan untuk diri sendiri dan masyarakat?
Tak terasa sudah memasuki bulan ke-6 tahun 2026. Cepat sekali waktu berlalu. Saya coba melihat media sosial saya, ternyata sudah banyak yang terjadi dalam kurun waktu 6 bulan ini. Naik-turunnya perasaan, bagaimana saya dan suami proposal date, haha... Iya, selama bulan Maret-Mei banyak banget hal yang harus diusahakan melalui jalur proposal. Rasanya sampai lelah dan bosan nulis proposal. Kadang sampai mikir, ya Allah, kenapa ya, untuk melakukan hal yang saya suka dan mendapatkan hal yang saya inginkan harus melalui jalan seperti ini. Kenapa tidak seperti orang lain yang bebas aja mau dapat apa, tinggal eksekusi aja, haha...
Namun tentunya selalu ada alasan dibalik garis takdir seperti ini. Setidaknya, hal yang didapatkan dari jalur proposal yang beradu dengan ribuan orang, jika kita bisa mendapatkannya, level kebahagiaan dan kebanggaannya akan jauh lebih luar biasa. Kita juga jadi lebih menghargai sebuah proses.
Di mata saya, ini cukup relate dengan kondisi masyarakat saat ini. Kok bisa?
BANGKITNYA KOMPETISI
Dua tahun belakangan kondisi masyarakat kembali ke settingan awal. Jika di masa pandemi hingga setidaknya 2023, sistem kolaborasi sangat erat menyisihkan sistem kompetisi, kini sistem kompetisi kembali merajai jagad raya (duh, hiperbola sekali ya, haha...) Saya sendiri sempat mendukung anak untuk mengikuti lomba, salah satunya lomba karate dan olimpiade matematika. Untuk pengalaman saja. Ternyata saya kurang cocok dengan atmosfer kompetisi anak sekolah.
Pertama, lomba karate.
Itu lomba perdana anak. Nggak punya ekspektasi apa-apa, yang penting anak mau. Namun ternyata anak saya dapat medali perunggu, juara tiga. Untuk logika saya ada yang janggal sih. Masak iya, kalah babaak pertama dapat juara 3, bawa pulang perunggu. Saya merasa ini hanya akal-akalan saja, ibarat kata, peserta membawa medali apresasi karena sudah membayar saat mengikuti lomba, bukan karena berhasil memenangkan pertandingan. Setelah saya lihat lagi, ternyata ini semacam bisnis. Makin banyak murid ikut lomba, makin tebal pula pundi-pundi uang yang didapatkan penyelenggara.
Kedua, olimpiade matematika. Bukan OSN.
Anak saya lolos penyisihan kota, kemudian mendapat medali emas dari penyisihan provinsi untuk maju ke olimpiade tingkat nasional. Seharusnya bangga ya. Namun, lagi-lagi saya merasa janggal. YSejak level kota/kabupaten, yang memperoleh medali emas, perak, perunggu tuh ada buanyak. Dibilang eksklusif ya eksklusif karena peserta ratuasan. Dibilang istimewa ya terasa hambar karena buanyak kuantitasnya. Saya berfikir, oh, seperti ini ya bisnis perlombaan. Pantas saja jika tumuh subur.
Dari dua pengalaman itu saya mengambil kesimpulan bahwa saya tidak cocok dengan sistem bisnis lomba. Bangga ada, tetapi terasa hambar dan palsu. Lomba sejati seharusnya tidak seperti ini (menurut keyakinan saya).
Balik lagi perihal proposal tadi ya... Dengan saya ikutan seleksi-seleksi ide melalui proposal, saya ingin memberikan contoh pada anak bahwa orang tua juga punya perlombaannya sendiri. Bisa saja kami berhasil, meski pahitnya kekalahan juga kerap ditelan, hehehe... Saya juga berkompetisi sih, ikut lomba buku anak, ikut seleksi voice over, lomba menulis, dll. Kalah sudah sering terjadi, sehingga saat kemenangan datang, rasanya bahagia bukan kepalang.
Apa yang sudah aku lakukan untuk diri sendiri dan masyarakat?
Selama bertahun-tahun saya fokus pada diri sendiri, melakukan hal yang saya suka. Menulis, menggambar, membuat kegiatan untuk anak dan orang tua, membangun komunitas. Banyak yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri. Dan setelah saya pikir-pikir, sepertinya banyak juga yang sudah saya lakukan untuk komunitas, hahaha...
Namun, tahun 2026 saya mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Komunitas mempertemukan saya dengan orang tua yang satu visi sehingga mempermudah dalam penyebaran praktik baik, tetapi saat keluar dari zona nyaman, saya akan dipertemukan dengan lebih beragam jenis orang tua.
Pastinya akan menantang.
Itulah kenapa saya mencoba untuk mengikuti seleksi Relawan Literasi Masyarakat atau Relima yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Republik Indonesia. Tahun lallu saya sudah melihat pengumuman seleksi program ini, sayangnya kabupaten tempat saya tinggal tidak masuk daftar. Yasudah, saya gigit jari, hehehe... Sempat ikut seleksi lain, yang ternyata beda banget, rekrutmen pegiat yang nyatanya kurang lebih semacam MLM buku, huhu... Akhirnya saya undur diri karena tidak sesuai visi misi.
Beruntung tahun ini kabupaten saya masuk daftar untuk program Relima. Rangkaian seleksinya lumayan, cukup menantang dan membuat berdebar. Meski begitu saya bersemangat karena jika bisa terlibat, aksi ini akan lebih serius dan bisa memiliki dampak lebih dalam, menyentuh akar rumput yang benar-benar membutuhkan fasilitas pengembangan literasi.
Detail mengenai Relima akan saya bagikan pada postingan lain. Sampai jumpa...
Salam Hangat,
sapamama

0 Komentar