Mencintai seseorang adalah suatu hal yang wajar dan bisa terjadi pada siapapun. Cinta bisa saja datang tanpa permisi dan bermain-main di dalam hati. Jika beruntung, kisah cinta yang saling tertaut dan berlanjut menjadi untaian kisah kasih sepasang kekasih.

 

Di jaman sekarang yang semuanya serba digital, komunikasi antar pasangan kekasih sangat mudah dilakukan. Dengan adanya perangkan cerdas nan canggih dalam genggaman, komunikasi menjadi makin cepat, dan praktis.

 

Saat sepasang kekasih terpisah jarak, bayangkan jika kita harus berkomunikasi seperti dulu, menggunakan surat, kartu pos, atau bahkan burung merpati! Untungnya semua sudah berlalu yah. Dengan adanya kemajuan teknologi, maka para pecinta itu dapat senantiasa berkomunikasi.

 

Adanya dampak positif, biasanya akan beriringan dengan dampak negatif, contohnya saja dengan munculnya tren baru dikalangan anak muda, salah satu tren itu adalah sexting.

 


Dikutip dari Mitchell Lounsbury & Finkelhor, 2011, Sexting ialah aktivitas mengirimkan pesan melalui perantara komputer, gawai, email, aplikasi & media elektronik lainnya. Macam bentuknya bisa berupa pesan singkat entah itu chat, suara (telepon, voice note), video call, gambar, video, yang memiliki unsur seksual/asusila, yang dimana aktivitas tersebut dilakukan oleh seseorang ke orang lain, yang terkoneksi  melalui perantara perangkat elektronik. Pada dasarnya aktivitas ini wajar dilakukan oleh pasangan dewasa yang terikat dalam pernikahan, namun karena kebebasan akses informasi akhirnya pasangan yang belum terikat pernikahan yang sah di mata hukum, bahkan anak di bawah umur memiliki akses terhadap kegiatan sexting ini.

 

Kegiatan tersebut nyatanya dapat menimbulkan masalah dan bahaya terutama bagi remaja perempuan yang seringkali menjadi korban dalam kasus yang bersinggungan dengan kesusilaan. Raditya Ermana Hantoro, S.H, seorang advokat muda di kota Solo mengungkapkan bahwa ada setidaknya 5 kasus yang berkaitan dengan aktivitas sexting pada anak muda/anak di bawah umur dalam kurun waktu 2014-2020. Kasus sexting ini memiliki beberapa pola, diantaranya adalah:Korban dan pasangan memiliki ikatan sebagai kekasih/teman di dunia nyata maupun virtual. Diawali dengan pasangan melakukan cyber stalking menuju cyber grooming (bujuk rayu pada korban untuk aktif secara seksual).

  1. Korban dan pasangan memiliki ikatan sebagai kekasih/teman di dunia nyata maupun virtual. Diawali dengan pasangan melakukan cyber stalking menuju cyber grooming (bujuk rayu pada korban untuk aktif secara seksual).
  2. Aksi diawali pesan singkat/suara yang vulgar, meningkat ke video call, lalu berkirim foto dan video berkonten seksual.
  3. Korban melakukan sexting secara sukarela, selain karena iseng, rasa percaya yang besar, serta sebagai bukti cinta ke pasangan tanpa mengetahui tujuan sebenarnya dan konsekuensi yang akan dihadapi.
  4. Si pasangan mulai ketagihan dan korban makin tidak nyaman. Permintaan makin nyeleneh dengan intensitas yang mengganggu kehidupan korban.
  5. Pasangan korban mulai meminta kontak fisik, ada korban yang mengiyakan, ada yang menolak.
  6. Rasa tidak nyaman menjalani hubungan tidak sehat membuat korban mengurangi sexting dan ingin mengakhiri hubungan.
  7. Pelaku mulai marah dan mengancam akan menyebarkan aktivitas sexting ke publik.
  8. Realisasi ancaman mpenyebarkan file aktivitas sexting ke ranah publik melalui perantara softfile atau hardfile.

Dengan adanya realisasi tindak pidana tersebut, dari mengancam, menyebarkan, dan pada beberapa kasus terjadi juga persetubuhan hingga kekerasan verbal maupun non verbal terhadap korban, maka pasangan korban sudah bisa di sebut pelaku Tindak Pidana. Penyebaran file sexting masuk dalam kategori malicious distribution dan merupakan kategori revenge porn. Pelaku dapat dijerat dengan beberapa pasal-pasal hukum dalam UU Informasi & Transaksi Elektronik, UU Pornografi, dan UU Perlindungan Anak.

Menumbuhkan sikap saling peduli dan komunikasi yang terbuka penting untuk melindungi orang tersayang


Pernahkah teman mama menemukan kasus yang diakibatkan sexting di lingkungan terdekat?

Bayangkan betapa hancurnya seorang remaja, entah itu perempuan atau laki-laki jika memperoleh musibah seperti kasus di atas. Peran serta keluarga dan orang terdekat sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi mental dan fisik korban. Jangan ragu untuk mengunjungi profesional, entah itu pengacara, Lembaga Bantuan Hukum, psokolog, atau psikiater untuk mendapatkan bantuan.


Salam Hangat

sapamama

24 Komentar

  1. Makin serem aja ya, Mbak, pergaulan digital remaja sekarang. Semoga bisa melindungi remaja di sekitar kita dari fenomena ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin.... Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, aamiin...

      Hapus
  2. Berat nih jadi orangtuanya anak gadis yang mulai beranjak remaja. Ya bukan berarti anak laki-laki tidak berat. Semua anak jadi tanggung jawab kita. Mengupayakan mereka terhindar dari semacam ancaman bahaya sexting ini yang susah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayapun juga deg2an mam. Semoga kita bisa mendidik anak2 kita menjadi pribadi yang baik dan terhindal dari efek negatif teknologi, aamiin...

      Hapus
  3. Mengerikan sekali. Membayangnya saja rasanya tak sanggup. Tapi harus bagaimana lagi. Efek IT yang mau tidak mau, suka tidak suka sangat susah dihindari. Cuman tinggal kita menjaga dan melindungi putra-putri kita supaya terhindar dari bahaya yang maha dahsyat ini. Selamat sore ananda Era. Salam sehat dari jauh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PR besar baginseluruh orangtua. Tantangan perubahan jaman yg tak terelakkan. Salam hangat untuk eyang. Semoga sehat selalu nggih

      Hapus
  4. Tugas ortu nih mejaga supaya anak2 terhindar dari pergaulan yang tidak diinginkan emang zaman semakin canggih motif kejahatan juga semakin canggih ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mam. Bismillah, semoga putra-putri kita selalu dalam lindungan-Nya

      Hapus
  5. Kdg kalo baca begini, aku jd sereem sendiri, mengingat aku ada 2 anak yg memang msh kecil, tp kan suatu saat mereka bakal besar, dan ga mungkin ada dlm pengawasan 24 jam :(.

    Dari skr pun udh aku wanti2 bahayanya gadget seperti apa, batasan2 antara perempuan dan laki2, supaya mereka ga bablas berteman nya nanti.

    Sexting blm pernah aku temuin dalam lingkungan sekitarku ya mba. Tapi bisa jd aku aja yg ga terlalu perhatian :(.

    BalasHapus
  6. Serem y a mbak membayangkan hal ini. Peran orang tua sangat diperlukan dalam pendampingan anak dalam tahapan perkembangannya. Apalagi di era digital seperti sekarang, harus benar2 peduli dengan perkembangan anak, biar bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi merek. Semoga kita selalu dimudahkan dalam mendidik anak2 dengan kebaikan ya mbak, aamin.

    BalasHapus
  7. Hmm, kita perlu mewaspadai fenomena ini ya agar orang di lingkungan kita terhindar dari dampak buruknya. Terutama para remaja, kita harus bisa menjadi pendamping yang baik agar kasus seperti tidak semakin marak.

    BalasHapus
  8. Makin pelik ya masalah yang dihadapi dengan kemajuan teknologi yang sedemikian pesatnya. Tanpa didampingi secara intensif, anak-anak yang tadinya nyoba-nyoba, tidak sadar klo masuk ke perangkap sexting, akhirnya harus menghadapi masalah yang cukup serius.

    BalasHapus
  9. Tugas ortu menjaga anak² remaja.. jangan sampai teknologi disalahgunakan. Terima kasih Mbak.. bagus untuk instropeksi saya

    BalasHapus
  10. Baru kemarin nih di ig salah satu influencer, follower'y ada curhat anak'y kedapatan melakukan sexting di usia'y yg masih 15 tahun. Duh! Ngeri banget ya, pendidikan seksualitas memang sudah nggak bisa d anggap tabu lagi dan ortu sudah harus memberi bekal sejak anak usia dini x yaa..

    BalasHapus
  11. Duh, ngeri banget lah pergaulan nak kanak jaman now.
    Apalagi yg punya anak remaja.
    makin challenging!

    BalasHapus
  12. Astagfirullah ngeri ngeri! Serem sama kebebasan jaman now. Auto pengen meluk anak-anak. Semoga kita bisa menjaga dan memberikan arahan yg benar utk anak-anak kita

    BalasHapus
  13. Duh ngeri banget.. Jadi tantangan yang cukup berat bagi para orang tua serta para remaja itu sendiri ditengah kemajuan teknologi yang makin pesat. Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT, aamiin..

    BalasHapus
  14. Sxxthing ini kayaknya bukan hanya mengancam remaja tapi juga dewasa. Paling dirugikan perempuan sebenarnya. Mengerikan banget dampaknya. Contoh paling gampang ya artis -artis yang foto xxxnya sampai viral. Penting banget menyadarkan remaja dan perempuan dewasa untuk gak melakukan ini. Dan pria untuk belajar jadi gentleman. Keluarga punya peran penting ya, Mbak.

    BalasHapus
  15. ya Ampun tantangan semakin besar ya Mbak Era. perbanyak pengetahuan agar bisa jadi skill melindungi anak dan remaja kita ya Mbak..thanks for sharing

    BalasHapus
  16. aduh ngeri ya mbak, memang mengasuh anak di era digital saat ini banyak sekali tantangannya, termasuk soal sexting ini
    anak anakku perempuan semua soalnya,

    BalasHapus
  17. Makanya ini mengenalkan gadget semacam pisau bermata dua
    Jadinya saya harus berupaya benar-benar menjelaskan manfaat dan mudharatnya pada anak

    BalasHapus
  18. Kak aku kog seram membayangkan hal yang begini INI. Aku ada teman yang menjadi korban sampai nangis karena takut dan tidak nyaman

    BalasHapus
  19. bener banget ini mba.. perlu komunikasi yang lebih terbuka antara anak dan orang tua sehingga bisa saling berbagi cerita... anak perlu pendampingan dan orang tua perlu memahami dunia anak sehingga bisa mengantisipasi...

    BalasHapus
  20. Zaman digital begini, kudu banget anak-anak pra remaja mendapat ilmu pengetahuan mengenai jejak digital yaah..
    Jangan sampai salah melangkah dan menjadi hambatan di masa depan juga traumatis.

    BalasHapus