Diskusi Online Komunikasi Efektif Dalam Keluarga, Tips Anti Miskomunikasi Playdate Soloraya


Masih dalam rangkaian Diskusi Online yang diselenggarakan oleh Playdate Soloraya bertema Menata Raga, Menata Jiwa - Happy Mommy, Happy Family. Kini kita akan belajar tentang Komunikasi Efektif Dalam Keluarga. Narasumber kali ini adalah mom Luky Maulina, Rangkul (Relawan Keluarga Kita) Solo yang juga merupakan salah satu member Playdate Soloraya.

Sejak tahun 2012 Keluarga Kita hadir diantara masyarakat Indonesia, meRangkul keluarga Indonesia untuk dapat bertumbuh menjadi lebih baik. Mengedepankan prinsip CINTA dalam tiap tindakan yang diambil sehingga dapat tercipta generasi masa depan yang makin bersinar.
Prinsip CINTA merupakan lima kunci dalam pengasuhan untuk mencintai dengan lebih baik. Prinsip CINTA dapat menjadi pegangan bagi tiap orangtua, agar ketika kita jatuh kita dapat kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju cita-cita kita. Apa saja prinsip CINTA?

C = Cari cara
Pengasuhan adalah perjalanan d engantujuan jangka panjang. CARI CARA dengan konsisten karena jalan pintas tidak efektif. Anak dan keluarga butuh proses & struktur berbeda dalam tiap tahap perkembangan.

I = Ingat impian tinggi
INGAT IMPIAN TINGGI & kecenderungan positif pada tiap anggota keluarga. Orangtua percaya anak mampu, sebelum anak membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dengan berhasil.

N = Nerima tanpa drama
Ujian terberat orangtua adalah mencintai dengan tulus, saat hadapi tantangan & alami tekanan emosi dalam keluarga. meNERIMA TANPA DRAMA, memahami kebutuhan tanpa syarat, & menumbuhkan potensi tanpa kekerasan.

T = Tidak takut salah
Jadi orangtua butuh terus belajar, TIDAK TAKUT SALAH, karena tidak ada keluarga yang sempurna. Refleksi & adaptasi harus selalu dipraktikkan, sejak masa anak, karena siklus pengasuhan berpengaruh lintas generasi.

A = Asyik main bersama
ASYIK BERMAIN BERSAMA & humor perlu dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Interaksi hangat bagaikan candu. Kehadiran & keterlibatan.keluarga seharusnya jadi pengalaman yang menyenangkan & bermakna.



Apa itu komunikasi efektif?
Komunikasi efektif terjadi saat penerima pesan memahami pesan yang diterimanya sebagaimana yang dimaksudkan pengirim pesan.
Syaratnya apa?
1. Mudah dipahami
2. Kredibilitas & ketrampilan pengirim pesan
3. Umpan balik/feedback

Bagaimana agar pesan mudah dipahami?
Kuncinya adalah empati, sebagai pengirim pesan tempatkan posisi kita seperti di posisi penerima pesan,apa yang ia rasakan, alami, pengalaman yang ia terima,refrensi yang ia punya.


Pertanyaan 1 :

Salah satu kendala saya dalam berkomunikasi dengan suami saya adalah karena saya lebih tua dari suami saya, karena itu saya selalu merasa suami saya masih belum dewasa dibandingkan saya dalam beberapa hal, bagaimana ya caranya agar suami tetap merasa dihargai dalam berkomunikasi khususnya bila saya ingin memberi nasehat?
Jawab :
Yang pertama mommy lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dulu agar prasangka tentang suami yang lebih muda hilang, beri suami peran lebih dalam keluarga,pupuk kepercayaan diri mommy dan suami bahwa perbedaan usia tidak akan menjadi kendala. Ingat-ingat lagi dulu ketika memutuskan untuk percaya dan menikah dengan suami, tentunya mommy percaya bahwa suami akan menjadi patner yang bisa diandalkan dalam suka & duka. Karena prasangka kita akan sangat berpengaruh pada cara kita menyampaikan pesan.
Lalu sampaikan dengan i-message apa yang mommy rasakan, agar suami juga tahu perasaan mommy.
Tanggapan 1 :
Iya benar moms. Saya merasakan pengalaman yang hampir sama hanya posisi saya perempuan. Usia saya 16th lebih muda dari suami. Dan saya merasakan suami saya memberikan peluang lebih kepada saya untuk menunjukkan kemampuan saya sambil suami mengajak saya pelan-pelan dengan memberikan contoh sikap-sikap dewasanya kepada saya dengan sabar. Dan saya sangat merasakan efeknya. Saya merasa dihargai dan diajak bertumbuh, bukan semata-mata sekedar digurui.
Tanggapan 2 :
Iyes,betul mom, intinya saling percaya dan mendukung, karena rumah tangga diarungi berdua,bukan cuma seorang saja.
Tanggapan 3 :
Suami sayapun jauh lebih tua, selain memberi ruang, beliau juga memberi kesempatan berpikir. Jadi menjadikan insight bagi saya dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Tanggapan 4 :
Benar bu, kalau saya kasusnya walau saya dan suami seumuran tapi karena suami saya itu dulu teman SMA saya sekelas dan posisi waktu SMA saya jauh lebih unggul prestasinya daripada dia jadi kadang memang ada perasaan seperti itu. Tapi saya sebelum berkata atau bersikap selalu hati-hati dan berpikir jika saya ada di posisi suami akan merasa digurui atau tidak. Jadi lebih saya bawa ke diskusi saja sambil memberikan opsi-opsi pemikiran saya sehingga ada timbal balik yang sama yang akan berakhir keputusan positif untuk bersama.

Pertanyaan 2 :

Saya ibu dari 2 anak laki2 (5 th dan 8 bln) kebetulan saya ibu bekerja. Saya punya kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan mom. Kebetulan saya berkarir dengan posisi lebih baik dibandingkan suami. Saya tidak mempermasalahkan suami berada dibawah saya, asalkan dia bekerja dan bertanggung jawab sudah cukup. Cuma saya sering sekali sulit untuk mengajak komunikasi. Suami saya orang yang sensitif, jadi setiap kami berkomunikasi pasti selalu menimbulkan konflik, entah itu tersinggung dsb. Padahal saya sudah memilih kata-kata yang baik untuk kedua belah pihak. Saya selalu mengalah, cuma lama kelamaan itu menjadi bom wktu buat saya. Lama-lama saya capek sendiri memikirkan perasaannya dan melupakan perasaan saya sendiri. Dan itu sangat berpengaruh dalam pola asuh kami sebagai orangtua dengan anak. Bagaimana ya mom cara berkomunikasi yang efektif dengan pasangan yang sangat sensitif dan kondisi seperti saya ini? Terima kasih.
Jawab :
Kembali lagi, berefleksi tentang apa yang mommy rasakan, emosi dalam diri harus selesai dulu baru menghadapi emosi dari yang lain. Sempatkan me time bersama pasangan, menostalgia lagi masa-masa dulu, sering-sering puji pasangan tentang kemampuan dia dalam keluarga, dan bagaimana penting ia dalam keluarga, sebagai suami maupun sebagai ayah dan bagaimana kita butuh ia untuk berdiri memimpin kita. Apalagi mommy punya anak laki-laki yg nantinya akan meniru suami bagaimana berperan sebagai suami & ayah yang baik. Apa yg mommy rasakan juga bisa disampaikan dengan i-message, agar apa yg mommy rasakan bisa disampaikan tanpa menyinggung perasaan suami.
Dua pertanyaan ini mengingatkan saya pada salah satu bit stand up comedy-nya Panji Pragiwaksono. Bahwa perempuan butuh perhatian, laki-laki butuh pengakuan, beri makan ego mereka maka mereka akan memberikanmu segalanya.
Tanggapan 1 :
Sepertinya kasus ini juga perlu mengingat prinsip CINTA yang ke-3 yaitu Nerima Tanpa Drama kan?
Pada kodratnya memang wanita dibawah suami dan suami di atas sebagai Kepala Keluarga. Kalau ada suami yang mau legowo menerima kelebiham istrinya itu bonus, berkah yang luar biasa. Tapi balik lagi kalau memang kondisi tidak memungkinkan ya kedua belah pihak harus saling mentoleransi. Karena sebenarnya sih tidak ada yang lebih unggul. Dalam keluarga yang utama saling melengkapi peran.  Kalau salah satu pihak ada yang bolong pasti Tuhan sudah menyiapkan penambalnya di pihak yang satunya.  Mungkin moms yang sedang dikasus ini memang dipersiapkan Tuhan untuk menambal kekurangan-kekurangan suami karena moms banyak kelebihan dan harus di salurkan kepada suami.
Tanggapan 2 :
Sepakat mam. Sayapun berusaha selalu memberi pengakuan dengan memuji suami, bahkan untuk hal remeh membantu memasangkan gas. Apalagi kalau kita paham bahasa kasihnya, jadi bisa lebih tepat mengambil langkah.
Tanggapan 3 :
Setuju mom... Sayapun juga begitu.  Kalau chemistry tidak sekompak dulu, mungkin ada baiknya luangkan waktu khusus untuk berdua mengenang masa pacaran. Biar chemistry numbuh lagi, bahasa kalbu jadi tersalurkan dengan baik.
Tanggapan 4 :
Bener banget ini, pujian kecil bisa menghangatkan hati. Walaupun beberapa mommies mungkin kesusahan ambil me time bersama suami, ngeteh bersama, bernostalgia, chit chat bercanda yang receh di rumah aja juga bisa.
Tanggapan 5 :
Pillow talk juga bisa ya... Pernah di kelas lain, ada tips agar pesan bisa lebih nyampe ke suami itu kita berkomunikasi setelah behubungan intim. Kurang lebih karena rileks. Tapi tentu dibantu  komunikasi asertif (i-massage) agar pesan dapat diterima dengan baik.
Tanggapan 6 :
Ini kok aku setuju banget… Pengalaman aku memang saat itu malah efektif banget. Nyampe banget dan tanpa debat tanpa drama.

Pertanyaan 3 :

Mom saya punya anak usia 2,5 tahun, yang saya mau tanyakan :
1. Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak pada saat si anak terkadang pada saat makan dia tidak fokus dengan makannnya, malah fokus dengan yang lain dan ujung-ujungnya cuma diemut makannya?
2. Saya mau tanya bagaimana cara kita sebagai orang tua, kalau jika suatu hari anak kita mau punya adik lagi, secara anak saya cucu pertama di keluarga dan bagaimana cara menyampaikan kepada anak kalau akan ada keluarga baru, tanpa menyinggung perasaannya atau biar si kecil tidak merasa terabaikan karna nanti akan punya adik?
Jawab :
1. Hmm... Anak & makan memang masalah yg sering terjadi. Kembali ke penertiban kebiasaan makan mom, penjadwalan makan teratur dengan maksimal 30 menit tanpa distraksi, ajak makan bersama keluarga biar ia juga belajar mengamati & meniru bagaimana makan yang benar. Bisa cek juga selera makannya, apakah dia ngemut karena ga suka makananya, atau bisa juga karena faktor fisiologis seperti tumbuh gigi.
2. Bisa disounding mulai sebelum merencanakan kehamilan mom, bahwa nanti akan ada adek yg ikut bergabung, ceritakan bagaiman serunya punya adek. Minta ijin ke anak saat proses perencanaan, libatkan saat proses kehamilan sampai melahirkan, dan sempatkan untuk punya me time khusus bersama kakaknya.
Mau cerita, no.2 ini terjadi juga pada saya. Dan manjurrr... Walaupun sekarang harus usaha penuh membagi waktunya, tapi me time bersama kakak tetap dilakukan setiap hari, main bersama tanpa adik adalah cara yang paling mudah.
Tanggapan 1 :
Seputar anak makan memang perlu pengamatan dari ibu. Kalau saya pribadi, anak sampai usia 2than masih aman di highchair. Makin besar ya pakai kursi. Kadang sambil main. Kembali ke ekspektasi kita juga. Saya memilih berdamai, anak ga duduk anteng gapapa. Yang penting kuantitas dan kualitas makanan yang berhasil dikonsumsi anak. Karena anak di usia itu kan pertumbuhannya harus terjaga. Nah, menu itu yg harus dieksplorasi ya. Saya juga masak 3x sehari. Pagi, siang, sore. Tapi mungkin beda keluarga beda kondisi ya... Disesuaikan saja. Nerima tanpa drama dan Cari cara.
Dengan tetap perhatian dan punya waktu untuk anak pertama juga bisa mencegah sibling rivalry ya mam.
 Tanggapan 2 :
Anakku dulu sampai usia 3th baru bs makan dengan baik moms.. Sebelumnya, napsu makan entah kemana setelah lepas ASI 2th, seperti kehilangan napsu makanan. BB turun tapi masih normal.
Usahaku  selalu  membiasakan makan di jam yg sama dan selalu makan bersama-sama (ayah ibu) 3x sehari dan dimeja yang sama. Menu selalu kuganti (siang beda sama sore). Tapi krn porsi makannya sedikit ya sering saya kasih cemilan. Diajak bicara mengenai nama-nama makanan dan memancing biar dia penasaran lalu bertanya. Memang suasana makan jadi riuh karena semi bercerita, tapi lama kelamaan enggak. Sekarang anakku makannya normal seperti ayah ibunya.
Nah menurunkan ekspektasi juga perlu… Kita toleransi dulu moms. Gapapa agak riweh, karena kalau saya yang utama adalah asipan gizi seimbang. Bagaimanaoun caranya yang pnting dapet. Apalagi masih golden age.


Pertanyaaan 4 :

Bagaimana mengatur/mengendalikan emosi kita agar kata-kata atau ucapan yang akan kita sampaikan tidak terbawa emosi walaupun sedang marah? Adakah trik/latihannya?
Jawab :
Belajar emosi = belajar nerima tanpa drama, memang salah satu hal yang paling susah ini.
Peka terhadap kebutuhan diri & emosi diri, saat kebutihan jasmani & rohani kita terpenuhi, kita juga jadi tidak gampang emosian. Tapi ada saat-saat memang emosi gampang sekali meletus, caranya redam dulu emosinya sebelum berkata-kata, tarik nafas sadar, hipnosis diri agar tenang dahulu. Yakinkan diri bahwa apa yang kita ucapkan tidak bisa ditarik dan disesali nantinya.
Pak Angga dari Anak Juga Manusia (AJM) pernah bilang bahwa emosi itu bentuk energi, tidak bisa dihilangkan tapi harus disalurkan, bisa minggir dulu sampai redam, ada yang ditinggal makan dulu, ada yang main handphone dulu baru emosi redam dan lain-lain. Mmacam-macam sih caranya.
Kalo boleh jujur yaa...
Omelan kita saat marah 90% nya hanya luapan emosi, 10%pesannya dan mungkin hanya 5% yg diterima anak, jadi akan sia2 kan. Apalagi cara kita marah akan ditiru oleh anak.
Tanggapan 1 :
Bagaimana jika malah marahnya cenderung diam?? Tidak ngomel, tidak juga barbar... Bagaimana cara menyampaikan itu agar efektif ya Mba?
Tanggapan 2 :
Sama sih mom, tetap tenangkan diri dulu sampai netral suasana hatinya, baru ngobrol enak pakai i-message. Tp sebelum menenangkan diri tetap bilang ke anak, ibu marah, ibu mau menenangkan diri dulu jangan diganggu ya.
Tanggapan 3 :
Ini saya punya rumus pengingat diri sendiri mom. Percuma kita ngomel panjang lebar karena konsentrasi anak paling 5-10menit.  Omelan kita selanjutnya tidak dihiraukan. Jadi kalau mau tegas hanya selama itu. Marah sama tegas itu berbeda, kalau tegas paling 5-10menit udah..setelahnya bisa pelukan atau senyum. Kalau marah bisa berkepanjangan.
Tanggapan 4 :
Bener banget ini, anak juga harus tau saat kita bersikap tegas, jadi dia tahu bahwa itu adalah hal yang penting.
Tanggapan 5 :
Noted. Yang belum saya coba adalah bilang untuk minta waktu agar diijinkan mengekspresikan emosi lebih dulu. Bawaannya maunya diam saja. Terima kasih.
Tanggapan 6 :
Menasehati anak kan harus pelan pelan ya mom, tapi kalau misal nih ngasih taunya sesuatu yang urgent harus segera diselesaikan masalahnya, misal anak suka gigit, atau suka mukul, atau suka makan hal yang nggak seharusnya dimakan, itu gimana ya biar anak diberi tau cepat ngertinya gitu?
Tanggapan 7 :
CEPAT ngerti. Kadang kita terjebak pengen anak serba cepat mam. Kita harus ingat bahwa dia hanyalah anak yang masih belajar. Jadi ga ada yang instan. Harus konsisten, selalu diulang terus menerus. Tentunya modal utama kita : Sabar.
Tanggapan 8 :
Ingatkan jangan sambil marah mom, mungkin ini tahap pembelajaran dia bisa dihampiri sambil dipeluk diberi tahu. Pelan-pelan pasti bisa, anak-anak makhluk pembelajar kok. Salah satu kunci komunikasi efektif itu redunansi, yaitu pengulangan pesan.
Tanggapan 9 :
Iya mom, dikasih tau malah ketawa ketawa anaknya mom, gemes jadinya, hehe
Tanggapan 10 :
Saya biasanya nanya dulu ke anak mam ketika dia sudah menunjukkan gelagat mau marah .
"Jag mau ngomong sama bunda gak?". Kalau dia bilang "enggak" ya sudah. Saya bilang "Bunda tunggu di dapur , sampai jag mau ngomong sama bunda."
Tapi kalau dia jawab "iya”, langsung saya to the point. Yang paling pertama saya bilang selalu "jag maunya apa?". Setelah anak mengutarakan isi hatinya..baru timbul nego diantara kita sambil saya jelaskan ini itu..entah nherti apa enggak..paling tidak selama dia berusaha mendengarkan itu juga bagian dari melatih pengelolaan emosinya sendiri.
Tanggapan 11 :
Bagus banget ini mom. Ajak berkomunikasi dan ajarkan juga ia mengekspresikan/melabeli perasaanya dia, dengarkan tanpa interupsi dan prasangka, berempati pada apa yg ia rasakan.
Tanggapan 12 :
Kalau dari metode Charlotte Mason. Sama anak seperti ini kita bisa tegaskan mba. Dekati anak, pegang pipi tatap matanya. Bilang,"Ibu sedang serius. Bukan sedang becanda. Bisa kita bicara?"
Kalau bisa ya langsung komunikasi mba. Kalau ngga kita kasih waktu. Kalau anak udah paham waktu bisa ditegaskan berapa menit dia akan siap.
Tanggapan 13 :
Mengulik Charlotte Mason lagi, saat anak marah bantu ia mengenali/melabeli perasaanya nanti ia akan terbantu sekali, dan ini akan mengurangi tantrum untuk anak-anak yang pada masa tantrum.
Tanggapan 14 :
Betul sih mom, sebelum kita ngajarin anak kita untuk mengenal dan meregulasi emosinya, pertama diri kita sendiri dulu yang harus belajar mengenal & meregulasi emosi diri kita sendiri.
Mengenal diri sendiri, mengenal kebutuhan diri sendiri, dan tahu apa yang harus dilakukan saat emosi. Walaupun kadang luput tapi setidaknya kita tetap harus berusaha, begitu juga yang kita inginkan dari anak kita. Yaitu tetap berusaha.

Diakhir sesi peserta diminta untuk menuliskan refleksi dari hasil diskusi. Semoga apa yang telah didiskusikan dalam sesi  DiskOn Komunikasi Efektif Dalam Keluarga bermanfaat bagi kita semua.

Be Happy Mommy for Happy Family J




Salam Hangat,
sapamama

Posting Komentar

2 Komentar