Saya adalah pecinta kucing.

Sejak masih kecil, kucing ailih berganti datang di keluarga kami. Kucing peliharaan pertama yang saya sayangi adalah Bento. Namanya bukan diambil dari  kotak bekal makanan asal Jepang, melainkan beradal dari lagu Iwan Fals berjudul BENTO alias Benteng Soeharto, hehe... Maklum, yang memberi nama om saya. Kala itu beliau adalah pemuda yang penuh semangat dan bergelora.


Setahun belakangan ini kami memelihara seekor kucing jantang berwarna putih-coklat susu bernama Choku. Ia adalah kucing keturunan, bahasa kerennya kucing Mixdom. Matanya yang biru membuat dia istimewa. Choku adalah kucing yang baik dan pintar, seringkali dia mengikuti kemana saya berada dan sabar menanti hingga pekerjaan yang saya lakukan selesai.


Bulan November 2020 lalu saya membawa serta Choku pulang ke rumah mama saya. Saya ngga tega membiarkannya sendiri karena saya akan berada di rumah mama saya agak lama. Setelah melewati drama sepanjang perjalanan, yang akan saya ceritakan di lain kesempatan, akhirnya Choku tiba dengan selamat di rumah mama.


Selama beberapa minggu dia Choku tinggal di rumah dengan tenang. Biasanya siang jalan-jalan lalu pulang. Namun, pada suatu hari Choku pergi dan 2 hari tidak pulang. Hmm.. Panik dong.... Udah desperate banget akan kehilangan kucing, hingga akhirnya ada teman yang memberi saran, "Mba, coba deh ngasih makan kucing liar dan minta tolong dicarikan kucing yang hilang" pungkasnya.


Awalnya saya skeptis, "Apa iya bisa menemukan kucing yang hilang dengan bantuan kucing lain?"


Beruntung kami punya Mona. Seekor kucing betina yang usianya beberapa bulan lebih tua dibanding Choku. Mona adalah kucing kampung tulen. Walau sudah hampir 2 tahun hidup bersama keluarga kami tapi naluri kucing liarnya masih sangat kuat. Walau sudah diberi makan makanan pabrikan, tapi dia masih gemar berburu tikus, bahkan anak ayam pun menjadi korbannya. Hiks...


Mona belum lama ini melahirkan anak. Hingga saya menulis ini, usia anaknya diperkirakan sekitar satu bulanan, belum genap 2 bulan. Karena instingnya, anaknya disimpan di atap rumah. Bikin gregetan karena pindah-pindah (konon kalau kucing beranak dipindah 7 kali). Awalnya di atas ruang makan, lalu di atas kamar Opa, pindah lagi ke diatas ruang tamu, dan sebagainya.

Entah apa yang ada dipikiran anak-anak Mona yang suka main dan tidur di littery box. Mambu!

Karena agak emosional kehilangan Choku akhirnya saya bilang ke Mona, "Mon, Choku hilang, ayo anakmu dibawa turun ke sini". Ga pake lama, beneran dong, si Mona membawa turun anak-anaknya. Jumlah anaknya ada 3 dan mereka kembar. Kalau tidak salah 2 jantan dan 1 betina. Lalu saya sediakan ruang untuk Mona dan segera membeli littery box untuk anak-anaknya. Saat itu anaknya masih belum bisa berjalan sempurna. Masih posisi ngesot, hanya kaki depan yang bisa digunakan berjalan.


Karena bangga pada Mona tentu saya memujinya sambil mengusap-usap kepalanya. Manja banget dan senang sekali jika kepalanya diusap. Saya melakukannya sembari berucap, "Mon, Choku masih belum pulang. Coba kamu cari dia, bawa pulang ya. Anakmu sudah aman di sini karena ada yang jagain. Kalau kamu bisa membawa pulang Choku, nanti aku belikan wetfood"


Saya bicara pada si Mona pagi, sesiangan dia ngga pulang, dan.... amazingly, sorenya dia pulang membawa Choku!


Pulang-pulang Choku nampak seperti kucing frustasi. Badannya mendadak kurus dan kelaparan.  Belum lagi badannya kotor seperti kena jelaga perapian. FYI, dikampung kami masih banyak dapur tradisional menggunakan kayu bakar. Jadi yakin Choku ngga pulang bukan karena dia ingin, tapi karena di kurung orang. Namun kami sudah bersyukur karena Choku pulang, jadi dia dikurung atau tidak sudah tidak terlalu kami hiraukan. Setelah makan Choku beristirahat di spot kesayangannya. dan karena Mona sudah melakukan tugasnya dengan baik, maka tentu wetfood segera meluncur ke mangkok makannya.

Kucing berwarna putih adalah Choku, dan kucing berwarna hitam adalah Mona. Mereka mulai akrab!

Awal Mona ketemu Choku dia galak banget. Heran deh kucing betina bisa segalak itu. Awalnya saya pikir akibar faktor hormonal kucing hami. Ternyata setelah melahirkan juga sama aja galaknya, hahaha... tapi, setelah kejadian itu, mereka nampak cukup akrab. Mona juga sudah lebih kalem menghadapi Choku. Sudah saling mengendus hidung dan pantat, juga bergandengan tangan, hahaha....


Etapi.... Drama hilangnya Choku belum berakhir. Emang dasar kucing jantan sedang masa birahi, dia pergi lagi dong.... Kali ini 2 hari! 


Akhirnya saya kembali meminta tolong pada Mona, ehm, tentunya dengan diiming-iming wetfood dong ya... Akhirnya Mona pergi. Agak khawatir juga karena cuaca sangat mendung dan sudah masuk musim hujan. Agak lama Mona pergi, tapi dia pulang dengan tangan hampa. Bahkan kalungnya hilang! padahal kalungnya ngga akan copot kalau ngga dicopot manusia. Curiga analisa si Oma benar bahwa Choku dikurung!


Ada benarnya juga sih, ada tetangga yang suka banget sama kucing. trio anak Mona yang pertama (semua belang putih coklat) di bawa Mona ke rumah tetangga saya. Tetangga saya sendiri yang bilang kalau dia bilang sama Mona kalau anak-anaknya di suruh untuk di bawa ke sana dan diiyakan sama si Mona. Anaknya dibawa pergi ke rumah tetangga! Jan tenan bikin KZL. Ealah Mon..mon...pintermu kebablasan! Berdasar pengalaman itu, dan tragedi hilangnya Choku yang pertama, kami juga menyimpulkan bahwa Choku di kurung dan tak bisa pulang.


Esoknya saya minta tolong lagi ke Mona untuk kesekian kalinya. Namun kali ini ngga terlalu berharap banyak dan sudah ikhlas. Bahkan saya minta kucing milik teman sebagai pengganti karena anak saya beberapa kali menanyakan si Choku. Agak lama Mona pergi. Sejak siang dan sore belum kembali. Saat itu hujan rintik-rintik dan saya sedang sibuk memasak. Adik saya berteriak kegirangan. Ternyata Mona berhasil membawa Choku pulang lagi!


Kali ini Mona kelihatan jengkel. Di rumah si Choku di toyor sambil ngomel, seakan Mona bilang,"Dasar bikin repot aja lu!" Sungguh hari-hari yang mendebarkan. 


Sejak hari itu Choku di awasi dengan cukup ketat. Sepertinya selain karena di kurung, dia yang sedang masa birahi terjerat cinta pada kucing betina tetangga. Memang sih, tetangga saya itu punya kucing cantik dan masih muda. Tapi itu bukan alasan buat kluyuran Chok! Bikin kawatir banget. Gimana ngga khawatir, jarak rumah kami dan tetangga terpisahkan 2 bentang kebun yang luas dan 3 rumah. Walau tidak terlalu jauh, tapi kebunnya lebat dan jalanan sangat ramai. Beberapa kali kucing kami mati karena kecelakaan. Jadi khawatir banget kan.


Tak lama saya harus balik ke Solo dan tentu si Choku diajak lagi. Next part saya akan menceritakan perjalanan saya dan Choku saat mau mudik dan balik ya... Untuk sat ini saya sedang menimbang untuk mensteril Choku. Ternyata emang dasar dia hobi kluyuran! Sejak di Solo, dia pulang dua hari sekali. Mumgkin  karena bantuin pacarnya merawat anak. Ternyata sebulan di tinggal pacarnya sudah melahirkan 4 bayi imut. Selamat ya Chok, sekarang statusmu sudah jadi bapak!

Choku sudah pulang ke rumah. Hobi utamanya adalah kluyuran. Semoga berjodoh untuk mensteril dia.


Teman mama punya rekomendasi klinik dokter hewan yang terjangkau untuk steril kucing? Atau teman mama punya pengalaman saat steril kucing? Boleh berbagi di kolom komentar ya...



Salam Hangat,

sapamama

0 Komentar