Melestarikan Hutan Dengan Adopsi Hutan Demi Masa Depan Kita



Hutan adalah paru-paru dunia yang harus dijaga. Pada tahun 2017, Hutan Itu Indonesia, suatu organisasi yang bergerak dalam pelestarian hutan membuat petisi untuk dilahirkannya Hari Hutan Indonesia. Perjuangan ini tidak sia-sia karena pada akhirnya tanggal 7 Agustus diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Dengan adanya hari peringatan, diharapkan bahwa hutan dapat menjadi identitas bangsa sehingga masyarakat memiliki ikatan dan kesadaran untuk melestarikannya.


Hutan melindungi kita

Kita hidup di negara dengan hutan hujan tropis. Hutan ini memiliki ciri pepohonan dengan ketinggian minimal 30 meter, selalu hijau, dan basah. Komunitas tumbuhan dipenuhi oleh liang berbatang dan epifit (termasuk anggrek, lumut, bromelliad, dan lumut kerak)  yang menempel dimana-mana.

Pohon-pohon yang tumbuh di lereng gunung dan hutan banyak sekali manfaatnya. Selama hujan lebat, daun dari tumbuhan dan pohon-pohon melindungi tanah dengan cara memecah air yang turun. Akar-akarnya berguna untuk menahan tanah pada tempatnya. Akar tersebut mengisap dan menyimpan banyak air sehingga bisa mencegah erosi/melongsorkan tanah. Tanah longsor juga bisa terjadi karena angin kencang. Dengan adanya pohon yang tumbuh secara berkelompok di permukaan tanah, maka kecepatan angin dapat berkurang secara alami sehingga dampak yang ditimbulkan pun berkurang.


Hutan merupakan rumah bagi berbagai keanekaragaman hayati. Berbagai flora dan fauna menggantungkan diri untuk hidup di dalamnya. Misalnya saja bunga Rafflesia arnoldii yang merupakan bunga khas Indonesia yang hanya hidup di pedalaman hutan Sumatera, lalu orang utan (Porgo obelii) di pedalaman Kalimantan dan Sumatera. Belum lagi wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke, masing-masing hutan di tiap daerah memiliki keistimewaan dan keunikannya sendiri. Hutan tropis di Indonesia bisa disebut juga sebagai sumber farmasi besar karena di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman herba yang berfungsi sebagai sumber obat alami.


Hutan juga membentuk budaya masyarakat adat. Mereka hidup dan merawat hutan dengan cara yang organik dan berkelanjutan. Masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat adat merupakan penjaga pengetahuan ekologis yang berharga dan sumber keragaman yang kaya di bumi. Keanekaragaman hayati merupakan aset global yang luar biasa untuk pembangunan ekonomi, integritas terhadap lingkungan, dan merupakan unsur penting penghormatan terhadap bumi.

 Keajaiban di dalam hutan

Tumbuhan adalah bagian terpenting dalam kehidupan di muka bumi. Manusia dan binatang tidak akan bisa hidup tanpa tumbuhan. Tumbuhan dengan kemampuannya membuat keajaiban bagi makhluk hidup lain. Tumbuhan mengambill zat anorganik (mati) dan merubahnya menjadi zat organik (hidup). Proses itu disebut dengan fotosintesis. Fotosistesis merupakan proses menggabungkan zat-zat dengan bantuan cahaya atau proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau. Secara normal cahaya yang digunakan dalam proses ini adalah cahaya matahari. Binatang juga dibutuhkan oleh tumbuhan karena binatang adalah sumber karbon dioksida yang diperlukan untuk proses fotosintesis. Jadi, tumbuhan mengambil air dan mineral dari tanah, juga karbon dioksida dari udara. Dengan cahaya sebagai sumber energi, klorofil di dalam daun mengubah semua ini menjadi makanan (gula). Dan selama proses ini berlangsung tumbuhan membuang oksigen, sumber kehidupan manusia dan binatang.

Lebih dekat dengan hutan

Untuk dapat memasuki hutan rimba belantara diperlukan surat ijin masuk. Pembatasan lain terhadap pemanfaatan hutan oleh manusia diantaranya adalah pembatasan waktu tinggal, pelarangan pembakaran kayu dan keharusan agar sampah dibawa pulang, bukan dibakar atau dikubur di dalam hutan.

Penjelajahan hutan rimba belantara tidak dapat dilakukan sembarang orang. Jika teman-teman adalah seorang pemula, sebaiknya didampingi oleh ahlinya. Tak bisa dipungkiri bahwa penjelajahan rimba belantara dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mendaki, berkemah, memanjat tebing, bahkan berenang di sungai, semuanya merupakan daya tarik yang luar biasa. Selain itu kita dapat melakukan hal lain yang tak kalah menarik. Meneliti berbagai jenis dan bentuk tumbuhan, mengamati indahnya gradasi cahaya di langit kala matahari tenggelam di balik pepohonan, atau sekedar menikmati bintang yang bertebaran sembari mendengarkan suara binatang malam. Mungkin teman-teman akan merasa takut dan takjub dalam satu waktu, namun kegiatan penjelajahan seperti ini dapat membuat teman-teman makin dekat Sang Pencipta dan bersyukur dengan apa yang sudah kita nikmati selama ini.

Yuk, adopsi hutan

Jika kita dapat menikmati keindahan hutan Indonesia, alangkah tidak adilnya jika kelak anak cucu kita hanya mengenal dan melihat hutan dari buku sejarah saja. Namun, bersama-sama kita dapat melindungi hutan agar tetap terjaga bagi masa depan kita. Cara yang sangat mudah dan sederhana adalah dengan adopsi hutan. Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun, di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya.



Dengan mengadopsi hutan kita dapat melindungi pohon-pohon tegak. Pohon tegak ini perlu dijaga dari berbagai ancaman, contohnya penebangan liar. Jika pohon tegak dapat bertahan, maka siklus kehidupan juga dapat berjalan. Salah satu cara aksi nyata jaga hutan adalah bekerjasama dengan masyarakat sekitar hutan dengan melakukan patroli. Dana adopsi hutan digunakan untuk menutup biaya yang dikeluarkan selama patroli jaga hutan. Selain itu dana adopsi hutan juga digunakan untuk pengembangan ekonomi masyarakat sekitar hutan, serta pemenuhan fasilitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Adopsi hutan dapat dimulai dari angka Rp10.000; lho... Dengan diam di rumah saja teman-teman mama dapat ikut menjaga kelestarian hutan.


Saya sangat bersyukur dengan adanya aksi adopsi hutan ini karena walau apa yang saya lakukan nampak kecil, namun dapat memberi dampak bagi hutan Indonesia.
Silahkan sharing jika dirasa penting.


Salam Hangat,
sapamama



Sumber tulisan:
1. Buku HUTAN karya Ristiningsih
2. Kanal Youtube Hari Hutan Indonesia
Talkshow Hari Hutan Indonesia: https://youtu.be/lzBKtoX1Gxo
Talkshow Kontribusi Komunitas Non Lingkungan: https://youtu.be/lzBKtoX1Gxo
3. Laman Mongabay Indonesia

Posting Komentar

10 Komentar

  1. Incredible article! Terima kasih sudah berbagi informasi yang sangat berguna untuk kita semua! Hutan untuk IndonesiašŸŒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir. Hutan adalah kita, mari kita jaga kelestariannya :)

      Hapus
  2. Kadang aku miris deh mbak. Saat kita berjuang mengampanyekan kelestarian hutan, tp kebijakan pejabat daerah justru kebalikannya. Aku dulu liputan kawasan hutan di Wonogiri jg gt tuh. Hutannya dibotakin katanya buat proyek wisata. Taunyanya proyek nya ga jd tp hutannya terlanjur gundul. Kan sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaa.... Terpotek hatiku membacanya mba... Kalau sudah begini kita bisa apa. Di kalangan pemimpin pun sepertinya perlu edukasi mendalam tentang hutan dan lingkungan ya... Ilmu dan budaya yang diturunkan nenek moyangpun kini makin terkikis dan dilupakan, seolah alam hanya menunggu akhir waktu datang menjemputnya. Semoga dengan adopsi hutan ini setidaknya kita bisa lebih menyadari bahwa hutan itu sangat bermakna bagi masa depan anak cucu kita.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  4. Setuju banget, dengan di rumah pun kita bisa ikut menjaga hutan melalui #adopsihutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, sangat solutif di masa seperti sekarang. Semoga banyak yang tergerak hatinya ya, aamiin....

      Hapus
  5. Semoga makin banyak yang berdonasi lewat adopsi hutan ya agar hutan kita makin lestari dan terjaga

    BalasHapus