Senin, 11 November 2019

Belajar Prinsip CINTA dan Teknik Komunikasi Efektif Dalam Keluarga

Hai Moms,

Pernahkah anda mendengar tentang Keluarga Kita? Bukan keluarga yang kita miliki ya... Tapi Keluarga Kita di sini adalah suatu yayasan yang fokus pada pendidikan keluarga, yayasan ini didirikan oleh ibu Najeela Shihab, seorang psikolog sekaligus putri dari ulama kenamaan, bapak Quraish Shihab. Sejak tahun 2012 Keluarga Kita hadir diantara masyarakat Indonesia, meRangkul keluarga Indonesia untuk dapat bertumbuh menjadi lebih baik. Mengedepankan prinsip CINTA dalam tiap tindakan yang diambil sehingga dapat tercipta generasi masa depan yang makin bersinar,

Apa itu prinsip CINTA?
Kita pasti menginginkan anak kita menjadi pribadi yang lebih baik bagi kita. Untuk dapat mencapai harapan itu tentu diperlukan perjuangan dalam meraihnya. Kita memiliki cinta yang amat besar bagi anak-anak kita, namun pola pengasuhan di masa lalu terkadang datang menghantui dan dapat menjadi batu sandungan bagi perjalanan kita. Prinsip CINTA merupakan lima kunci dalam pengasuhan untuk mencintai dengan lebih baik. Prinsip CINTA dapat menjadi pegangan bagi tiap orangtua, agar ketika kita jatuh kita dapat kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju cita-cita kita.

Prinsip CINTA memiliki makna sebagai berikut :

  • C : Cari Cara
Pengasuhan adalah perjalanan d engantujuan jangka panjang. CARI CARA dengan konsisten karena jalan pintas tidak efektif. Anak dan keluarga butuh proses & struktur berbeda dalam tiap tahap perkembangan.


  • I : Ingat Impian Tinggi

INGAT IMPIAN TINGGI & kecenderungan positif pada tiap anggota keluarga. Orangtua percaya anak mampu, sebelum anak membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dengan berhasil.


  • N: meNerima Tanpa Drama

Ujian terberat orangtua adalah mencintai dengan tulus, saat hadapi tantangan & alami tekanan emosi dalam keluarga. meNERIMA TANPA DRAMA, memahami kebutuhan tanpa syarat, & menumbuhkan potensi tanpa kekerasan.


  • T : Tidak Takut Salah

Jadi orangtua butuh terus belajar, TIDAK TAKUT SALAH, karena tidak ada keluarga yang sempurna. Refleksi & adaptasi harus selalu dipraktikkan, sejak masa anak, karena siklus pengasuhan berpengaruh lintas generasi.


  • A : Asyik Bermain Bersama

ASYIK BERMAIN BERSAMA & humor perlu dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Interaksi hangat bagaikan candu. Kehadiran & keterlibatan.keluarga seharusnya jadi pengalaman yang menyenangkan & bermakna.

Dalam menyebarkan virus kebaikan ini Keluarga Kita dibantu oleh RANGKUL, yaitu Relawan Keluarga Kita yang merupakan program pemberdayaan keluarga yang diinisiasi oleh ibu Najeela Shihab sebagai sarana untuk belajar dan saling mendukung dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Kenapa dibutuhkan Rangkul hingga pelosok negeri? Karena sejatinya pendidikan dan pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama, orangtua, keluarga, dan lingkungan tempat anak bertumbuh.

Untuk menjadi Rangkul kita bisa mendaftarkan diri ketika proses seleksi dibuka. Proses dimulai dengan seleksi administrasi yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan. Kini pelatihan diadakan secara online menggunakan media aplikasi Zoom yang bisa diakses bersama-sama ketika kelas telah dibuka. Untuk lolos menjadi Rangkul, peserta yang sedang menjalani pelatihan harus dapat lolos pada setiap tahapannya. Hmm.... Cukup menegangkan ya.

Ada tiga kurikulim utama dalam Keluarga Kita yang harus dipelajari baik oleh Rangkul maupun keluarga pada umumnya, yaitu :

  1. Hubungan Reflektif
  2. Disiplin Positif
  3. Belajar Efektif

Mari kita bahas satu persatu
Sebagai awalan, kali ini kita bahas dulu tentang Hubungan Reflektif ya...


  • Hubungan Reflektif

Dengan mempraktikkan Hubungan Reflektif, maka kita anak menumbuhkan anak dan keluarga yang bahagia. Selama ini kita tumbuh dengan dipengaruhi banyak faktor, salah satu faktor yang sangat melekat sehingga membentuk diri kita saat ini adalah pola asuh di masa lalu. Entah itu pola asuh yang positif ataupun negatif, semuanya melekat dalam diri kita. Tentu kita ingin meninggalkan pola asuh negatif yang kita dapatkan agar tidak berlanjut pada anak kita karena ternyata hal tersebut dapat mempengaruhi pola disiplin, penyelesaian konflik, dan tujuan belajar. Oleh karena itu tentu akan ada bagian yang harus kita hapus, kita lanjutkan, atau kita koreksi untuk menjadi pola asuh yang baru. Yang tak kalah penting adaah mengkomunikasikan pola baru yang akan di usung dalam pola asuh pada anggota keluarga, karena kita harus konsisten daam penerapannya sehingga hasil baik dapat dirasakan oleh anak kita dan generasi berikutnya.

Kita lahir dengan karakter bawaan yang kita dapat dari orangtua kita. Beberapa bulan lalu misalnya, saya melakukan suatu tes karakter pada anak dan ternyata hasilnya menunjukkan bahwa karakter anak saya memiliki karakter yang sangat mirip dengan saya. Sejak saya itu saya meyakini bahwa anak mewarisi karakter dari orangtuanya, bisa didominasi dari karakter ibu ataupun ayah. Dalam Keluarga Kita kita juga belajar tentang ini. Di mana dijelaskan bahwa anak terlahir dengan temperamen bawaan yang sudah dapat dilihat sejak lahir (melalui tangisannya).

Dalam Keluarga Kita ada 9 kontinum temperamen, yaitu :

  1. Aktivitas, yaitu jumlah tenaga yang dikeluarkan oleh tubuh, misalnya: apakah anak cenderung diam atau aktif bergerak.
  2. Distraksi, yaitu bagaimana seseorang dapat mudah teralihkan oleh stimulus tiba-tiba, misalnya: mudah terganggu suara atau gerakan.
  3. Intensitas, yaitu bagaimana seseorang bereaksi, termasuk menunjukkan suasana hati. Misalnya: apakah kita cenderung memendam emosi atau mengekspresikannya, baik emosi positif atau negatif.
  4. Keteraturan, yaitu waktu kita menjalani rutinitas sehari-hari, misalnya: waktu makan, belajar, dll.
  5. Ambang Sensori, yaitu batas toleransi seseorang terhadap stimulus suara, aroma, temperatur, tekstur, dan aroma. Misalnya: Apakah kita mudah tidur di mana saja?
  6. Pendekatan atau Penolakan, yaitu bagaimana reaksi seseorang terhadap situasi baru.
  7. Adaptif, yaitu bagaimana seseorang cepat/lambat beradaptasi dengan perubahan, misal: apakah kita mudah menerima aktivitas baru?
  8. Ketekunan, yaitu seberapa lama sesorang dapat menghadapi situasi sulit tanpa menyerah.
  9. Suasana Hati, yaitu bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hati positif atau negatif.
Selain hubungan kita dipengaruhi oleh pola asuh di masa lalu dan temperamen bawaan, hubungan kita terhadap individu lain juga dipengaruhi oleh perubahan zaman dan pergaulan sosial & dunia luar.

Pergaulan sosial dan dunia luar misalnya, saat dilingkungan rumah tidak ada satupun anggota keluarga yang merokok, jikapun ada tamu yang berkunjung, biasanya orang dewasalah yang merokok. Di lain waktu anak kita menyaksikan murid SMP dan SMA merokok. Kita tak perlu lari dari hal yang negatif seperti pada kasus tersebut. Dengan melihat isu tersebut, kita bisa mengajak anak untuk berdiskusi lebih jauh dan menguatkan prinsip-prinsip larangan merokok.

Zaman terus berubah. Bahkan perkembangan teknologi bergerak dengan amat sangat cepat dalam kurun waktu 30 tahun belakangan ini. Bisa kita ligat teknologi smaartphone sudah mengakar dalam kehidupan generasi muda. Kehilangan pengisi daya baterai telepon atau kehilangan signal internet sering membuat anak-anak resah. Kita tak perlu mengeluarkan emosi negatif. Kita bisa memberikan empati dan dapat mengajak anak melakukan aktivitas lain yang tak kalah menyenangkan.


Dengan berkomunikasi efektif, maka kita akan memperbaiki pola komunikasi antara orangtua-anak dan dapat memberikan dampak baik bagi anak. Hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan tersebut adalah:
1. Managemen Waktu
Kita harus dapat sensitif dengan kebutuhan anak. Setiap anak unik & begitupun hubungan dengan orangtuanya. Rasa kangen, pikiran, atau pertanyaan yg muncul tiba-tiba sebenarnya mengingatkan kita untuk memprioritaskan anak.
2. Menikmati Waktu Untuk Diri & Pasangan
Pastikan kita tahu apa yang kita rasakan. Kondisi fisik & emosi sangat berpengaruh pada bagaimana kita menjalani hari dengan anak atau dengan anggota keluarga lain. Jika kita merasa lelah, pastikan kita dapatberistirahat, utarakan harapan kita pafa anak atau pasangan. Anak yang tercukupi kebutuhannya, juga akan belajar memenuhi kebutuhan orangtuanya.
3. Pentingnya Bermain & Humor
Bermain bersama adalah cara efektif untuk membuat anggota keluarga lain merasa keberadaannya dihargai & dianggap penting. Pengalaman ini akan berdampak positif pada kualitas hubungan.

Dalam penyelesaian konflik, Keluarga Kita memiliki cara komunikasi yang disebut dengan Komunikasi Efektif. Komunikasi efektif adalah bentuk komunikasi untuk meningkatkan kualitas dan kelancaran percakapan dengan mengedepankan empati. Empati adalah salah satu kemampuan dasar orangtua yang sangat esensial. Berempati pada anak berarti orangtua memahami anak melakukan sesuatu, mencari pola dan penyebabnya, bukan berarti membolehkan anak melakukan apa saja. Terima perasaannya, namun batasi perilakunya. Misalnya, boleh marah karena buku di rusak adik, tapi dilarang memukul.

Saat berkomunikasi, usahakan kebutuhan dasar sudah dipenuhi, misalnya anak mudah rewel saat sedang lapar dan ibu mudah marah saat kurang tidur. Saat terjadi konflik atau situasi intens lainnya, orangtua dan anak perlu mengambil jeda. Gunakan jeda tersebut untuk memeriksa dan memenuhi kebutuhan dasar. Jika kebutuhan sudah terpenuhi, perbanyak mendengarkan anak tentang apa yang dia alami walau tidak langsung saat itu juga. Mendengar dan memahami adalah dasar empati.

Berikut ini adalah kompetensi dasar yang perlu dipraktikkan saat berkomunikasi antar-kita :
1. Mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang dengan i-message
Contoh : "Aku sedih saat kita ngobrol kamu malah fokus dengan HP, aku ingin kita bicara dengan lebih fokus dan serius karena kita akan menjadio contoh anak kita"
2. Mengungkapkan maaf karena sadar bahwa apapun yang terjadi merupakan kontribusi banyak pihak
Contoh : "Maaf jika aku bersikap berlebihan"
3. Menyatakan persetujuan walau tidak harus 100% sependapat, pasti ada unsur yang bisa disepakati
COntoh : "Ibu setuju dengan idemu"
4. Mengungkapkan kebutuhan diri di saat sulit tanpa takut ditolak atau gengsi
Contoh : "Aku harap kamu mau membantu"
5. Menyatakan apresisasi dengan rutin bahkan pada hal kecil
Contoh : "Terima kasih ya Nak sudah mau mendengarkan ibu"


Demikian yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga dengan ini kita dapat bersama-sama menjadi orangtua/partner/anak yang lebih baik.


Salam Hangat,
sapamama












Previous Post
Next Post

post written by:

Sapamama merupakan sebuah blog pribadi yang hadir untuk berbagi energi positif bagi wanita Indonesia. Hubungi kami di email: erasoloraya@gmail.com

0 komentar: