Rabu, 20 November 2019

Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono, Bukti Cinta Kepada Keris Cagar Budaya Indonesia


Keris

Sudah menjadi kenyataan bahwa karya Tosan Aji yang paling menonjol adalah Keris. Keris merupakan senjata penusuk pendek, atau senjata tikam yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian bilah dan ganja yang melambangkan lingga dan yoni. Persatuan lingga dan yoni merupakan perlambangan harapan atas kesuburan, keabadian (kelestarian), dan kekuasaan.

Secara etimologi, dijelaskan bahwa keris sebagai artefak berasal dari gabungan dua suku kata, yaitu kata ke dari kata "kekeran", dan ris dari asal kata "aris". Kata kekeran memiliki makna "pagar, penghalang, peringatan, atau pengendalian", sedangkan aris memiliki arti "tenang, lambat, atau halus". Munculnya istilah keris ini diperkirakan dari bahasa Jawa Ngoko yang terbentuk melalui proses jarwa dhosok atau othak athik gathuk, yaitu ungkapan dalam bahasa Jawa yang menghubung-hubungkan beberapa kata sehingga dianggap memiliki arti tertentu. Dalam pemahaman ini, bahwa keris merupakan 'peranti' untuk kekerasan, lalu melalui pengertiannya yang diperhalus ini tersimpan harapan bahwa keris dapat berfungsi untuk melindungi pemiliknya dari ancaman yang bersifat fisik mau pun non fisik. Namun terdapat pendapat lain bahwa kata "keris"  yang berasal dari bahasa Jawa Kuno sebenarnya tumbuh dari akar kata kres dari bahasa Sansekerta.

Keris adalah suatu karya yang utuh dan memiliki karakteristik yang khas sehingga dapat dibedakan dengan tosan aji lainnya. Keris merupakan senjata tajam yang dilengkapi dengan warangka (penutup bilah) dan hulu (ukiran). Sebuah senjata dapat dikatakan sebagai keris jika memiliki tiga bagian pokok yaitu ukiran (hulu)warangkadan wilahan (bilah).

1. Bilah
Wilahan atau bilah adalah bagian pokok dari sebuah keris. Bilah keris memiliki banyak ragam bentuk atau tipologi yang disebut dengan dhapur. Dhapur keris merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tipologi bentuk keris berdasarkan rerincikan-nya. Bagian lain dari bilah adalah pamor. Pamor dapat diartikan sebagai pancaran kekuatan karismatik dari seseorang atau benda. Secara umum pamor berasal dari kata amor yang artinya mencampur. Dalam dunia tosan aji, teknik pencampuran melalui pelipatan dan penempaan berbagai jenis bahan logam tersebut membuatnya menghasilkan ornamen baik abstrak atau figuratif yang disebut "pamor".

Berbagai bentuk bilah
Dok. Brojobuwono
Proses pembentukan pamor dengan metode lipat dan tempa
Dok. Brojobuwono

2. Hulu
Biasa disebut ukiran atau deder merupakan bagian pegangan dari bilah keris yang terhubung melalui pesi atau peksi yang berada di bagian bawah bilah. Umumnya hulu dihias dengan mendhak atau selut yang dibuat dari bahan logam mulia. Hulu keris biasanya terbuat dari kayu yang memiliki warna dan pola tertentu untuk meningkatkan nilai estetikanya. Namun ada juga hulu dengan bahan gading atau gigi graham gajah, tanduk rusa, tanduk kerbau dan lain-lain. Bentuk hulu keris di Jawa merupakan stilisasi figur manusia (roh) atau flora dan fauna.

Rerincikan Hulu
Dok. Brojobuwono

3. Warangka
Warangka adalah bagian penutup bilah. Di dunia perkerisan di luar Jawa, tepatnya di wilayah Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Sumatera warangka biasa disebut dengan istilah sarung keris atau sampir keris. Biasanya warangka dihiasi dengan pendok pada bagian gandhar-nya. Pendok sebagai penghias gandar terbuat dari logam seperti emas, perak, tembaga, dan kuningan sebagai pelindung sekaligus penghias warangka.

Rerincikan Warangka
Dok. Brojobuwono
Contoh Pendok
Dok. Brojowubowo

Pembuatan keris bersifat eksklusif, artinya setiap orang memiliki keris yang berbeda. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan sifat pada setiap diri manusia, sehingga keris milik si A tidak akan sama dengan keris si B. Oleh karena itu saat kita ingin membuat keris kita harus melalui proses konsultasi dan melalui rangkaian tahapan sehingga kita dapat menemukan atau membuat keris yang cocok dengan diri kita.

Prosesi wiwitan
Dok. Brojobuwono
Saat akan membuat keris biasanya diperlukan serangkaian upacara wiwitan dan nantinya akan diakhiri dengan kirab pusaka.



“JAYA MUDA PRAJA MUKTI
 Betapapun terpencil tempatnya
Betapapun kecil keadaannya
KAMI TELAH BERUSAHA
Dengan apa yang kami punya
Dengan apa yang kami bisa
Melestarikan Keris Indonesia
Mendukung revitaslisasi budaya
Mewujudkan cita-cita bangsa
BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN - Padepokan Keris Brojobuwono, 2012"

Kami tinggal di sebuah desa yang tak terlalu jauh dari pusat kota Surakarta. Hijaunya tanah persawahan dan perkebunan masih mudah ditemui di desa kami. Di sini unsur budaya masih cukup terjaga. Beruntung kami tumbuh dalam lingkungan yang masih mengedepankan nilai luhur nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari. Sejak kecil kami sudah diajarkan untuk melakukan tirakat, menahan diri dari kehidupan duniawi untuk lebih dekat dengan Ilahi.

Sejak belia kami sudah dekat dengan Keris. Kakek kami, mbah Sapuan, selain memperkenalkan seluk beluk budaya Jawa juga mengajarkan kami pengetahuan tentang keris. Ada beberapa keris yang sudah lebih dulu dimiliki mbah kami dan terjaga dengan baik hingga sekarang. Karena dekat dan lekat dengan keris sejak usia dini, maka tanpa disadari kecintaan kami terhadap keris dan budaya Jawa mulai tumbuh subur bak rumpun bunga di musim hujan.

Salah satu saudara kami memutuskan untuk mempelajari dan berkomitmen dalam melestarikan dan mengabdikan diri dengan ilmu tentang keris sejak menempuh studi di perguruan tinggi, yaitu di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Basuki Teguh Yuwono. Beliaulah yang kemudian menjadi Empu Keris di sini.
Empu Basuki
Dok. Pribadi
Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono adalah nama Padepokan kami. Padepokan sejatinya merupakan tempat para pemuda berguru (ndepok) untuk menimba ilmu dan berlatih ketrampilan pada seorang guru yang dipercaya memiliki ilmu dan ketrampilan tinggi. Museum ini telah diresmikan pada 26 Mei 2012. Walau jika dihitung dari tanggal peresmian usia museum kami baru menginjak 7 (tujuh) tahun, namun praktik kami dalam mendidik generasi muda sudah berjalan jauh sebelum itu.

Empu Basuki Teguh Yuwono merupakan dosen di ISI Surakarta dan tercatat sebagai tim ahli Warisan Budaya Tak Benda dan ahli keris dan senjata tradisional di Kementrian Pendidikan dan Budaya Indonesia. Pengalamannya dalam mengolah besi menjadi keris sudah berjalan selama puluhan tahun. Jadi, walaupun usianya masih terbilang muda, tak perlu ragu untuk berguru pada beliau jika ingin lebih memahami dan lebih dekat dengan budaya Jawa pada umumnya dan mempelajari keris pada khususnya.

Siapapun yang memiliki semangat dan niat tulus untuk belajar tentang keris kami terima dengan suka cita. Semua fasilitas di Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono dapat digunakan dengan gratis. Yang perlu dicatat adalah kita harus senantiasa menjaga sopan santun, memperhatikan norma yang berlaku merupakan suatu keharusan, karena di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.

Jangka waktu proses pembelajaran dalam membuat keris sangat beragam. Jika ingin mendalami ilmunya, maka diperlukan waktu belajar berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Semua tergantung pada pribadi murid tersebut. Jika ingin belajar secara singkat juga diperkenankan. Misalnya dengan mengamati workshop keris secara langsung dan melakukan wawancara dengan para empu pembuat keris. Sudah banyak sekolah dan universitas baik dari dalam dan luar negeri yang telah berkunjung dan belajar di Padepokan Keris Brojobuwono.

Sanggar Ipnu Brojosari dari Bandung, Sanggar Sangkelat dari Sukoharjo, Sanggar Wesi Aji Denpasar Bali, dan Paguyuban Tosan Aji Ajigasang Kutai Barat adalah beberapa contoh dari sanggar tosan aji yang pernah mendapatkan bimbingan dari Padepokan Keris Brojobuwono.

Selain empu Basuki, ada beberapa empu yang menjadi bagian dari keluarga besar Padepokan Keris Brojobuwono, yaitu Empu Kristanto & Ketug Pamungkas. Selain itu ada Panjak, yaitu pak Sardi, Ngadimin, Itok Dewanto & Pondasi Teguh Yuwono. Sebagai Meranggi ada pak Hadiwiyono Poniyem, Slamet, dan Suroso.
Tim Padepokan Keris Brojobuwono
Dok. Pribadi : Yayasan Brojobuwono
Sebagai salah satu pusat pelestarian keris Indonesia, Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono memiliki 3 (tiga) pilar sebagai tonggak utamanya.

  • Pilar Pertama

Menghormati masa lampau dengan merawat keris yang dicipta oleh empu di masa lalu dan menyebarluaskan kepada masyarakat. Ini bisa dilihat dari koleksi keris yang ada di museum. Banyak diantaranya berasal dari masa Kerajaan Majapahit, Mataram, dan lainnya.

  • Pilar Kedua

Menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat. Kegiatannya meliputi aktivitas dalam workshop, seminar, penyebarluasan informasi melalui media buku, termasuk menulis beberapa buku tentang keris.
Berikut ini adalah beberapa buku yang telah ditulis :
Keris Naga, Keris Bali, Keris Lombok, Kujang, Keris Minangkabau, Keris Dholog, Keris Jawa, Mandau, dan lain-lain.

Selain buku berbahasa Indonesia kami juga memiliki buku dalam bahasa Inggris, yaitu Indonesian Kris – An Introduction dan Padepokan Brojobuwono, The Indonesian Kris Preservation Center.

  • Pilar Ketiga

Pembuatan keris-keris masterpiece, yaitu keris yang berkualitas tinggi. Beberapa keris untuk tokoh nasional dibuat di besalen Padepokan Keris Brojobuwono. Salah satunya adalah keris untuk Presiden Joko Widodo yang digunakan dalam Kirab 1000 Keris di kota Solo pada bulan September lalu.

Lebih Dekat Dengan Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono


Tahun 1999 merupakan langkah awal kami membangun MPadepokan Keris Brojobuwono. Semua diawali dari sebuah besalenBesalen adalah bengkel produksi keris. Pada tahun 2012 kami melakukan renovasi total sehingga tak hanya keris, namun kami juga melangkah untuk melakukan konservasi fosil yang merupakan salah satu bentuk aset budaya yang berharga bagi sejarah bangsa. 

Kini kami mengajak teman-teman untuk melihat lebih dekat Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono. Bangunan ini memiliki luas sekitar 1500 meter persegi dan berdiri di atas tanah milik keluarga. Lantai dasar digunakan sebagai ruang koleksi keris dan besalen. Selain itu terdapat open stage yang dapat digunakan untuk aktivitas seperti olah raga yoga, taichi, menari, dan lainnya. Terdapat rubanah yang digunakan sebagai ruang koleksi fosil.




Proses menempa keris di Padepokan Keris Brojobuwono
Dok. Brojobuwono
Semua fasilitas ini dapat diakses secara cuma-cuma dan dapat dikunjungi setiap hari Selasa-Minggu mulai pukul 09.00-15.00 WIB. Hari Senin merupakan hari libur. Untuk dapat mencapai lokasi kami teman-teman bisa mengakses google maps Padepokan Keris Brojobuwono. Untuk info terkini silahkan menghubungi narahubung di 081329007378 atau mengikuti akun instagram Padepokan Keris Brojobuwono.

Warisan Budaya : Rawat atau Musnah Adalah Pilihan Kita

Pada tahun 2005 UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage) dari Indonesia. Sudah selayaknya kita ikut andil dalam merawat cagar budaya yang luar biasa ini. Dengan membaca blog ini setidaknya teman-teman menjadi tahu. Dengan tahu kita akan berusaha mengenal lebih baik. Dan setelah semakin dekat dengan keris maka kita akan semakin mencintai, peduli dan berusaha merawat dan menjaganya. Karena pilihan kita hanya ada dua : Rawat atau musnah!

Bapak Ir. Soekarno, proklamator Indonesia pernah berkata, "Indonesia adalah negara adidaya di bindang budaya". Pada tahun 2018 UNESCO pun telah mengakuinya. Saat ini kita hidup diantara banyak cagar budaya yang luar biasa. Alangkah indahnya jika kita juga mewariskan hal yang luar biasa ini kepada anak cucu kita.

Untuk mengetahui segala informasi tentang Data Pokok Kebudayaan, Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda ataupun Registrasi Nasional Cagar Budaya, silahkan berkunjung ke laman milik Direktorat Jendral Kebudayaan. Segala informasi terkait budaya dan pelestariannya bisa kita peroleh di sana.

Untuk teman-teman blogger, jika teman-teman memiliki opini ataupun ingin berbagi semangat untuk merawat cagar budaya Indonesia, mari kita ikuti Kompetisi "Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau musnah!".

Tunggu apalagi? The clock is ticking. Langkah kecil kita akan sangat bermakna bagi pelestarian cagar budaya Indonesia.


Salam Hangat, 
sapamama





Sumber Referensi :
Buku Keris Indonesia oleh Basuki Teguh Yuwono, 2012
Buku Panduan Museum dan Padepokan Keris Brojobuwono, 2012





Previous Post
Next Post

post written by:

Sapamama merupakan sebuah blog pribadi yang hadir untuk berbagi energi positif bagi wanita Indonesia. Hubungi kami di email: erasoloraya@gmail.com

8 komentar:

  1. Ternyata masih ada ya empu keris.. saya kira cuma ada di jaman2 kerajaan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walau jumlahnya terbatas tapi masih ada mom. Semoga kedepannya semakin banyak empu dari generasi muda yg melahirkan inovasi namun tetap menjunjung tinggi nilai budaya :)

      Hapus
  2. Mbak era... Aku mau dong diajakin ke sini. Sambil bawa anak boleh ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak hingga lansia boleh ke sini mba wid... Tapi kalau mau lihat prosesi menempa, misalkan ngepasi ga ada prosesinya harus membuat perjanjian dulu untuk disiapkan. Biasanya fotografer atau sekolah kalau mau kunjungan janjian dulu untuk bisa dapat momen

      Hapus
  3. warisan budaya yang sarat filosofis ya, aku kalau lihat keris rasanya back in past time, rumit dan mendalam gitu mistisnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangsa kita memiliki peradaban yang sangat luar biasa mom. Ini baru sedikit sekali yang dituliskan. Masih banyak yang belum dijabarkan.

      Terima kasih telahberkenan mampir :)

      Hapus
  4. Wah... ternyata sebilah keris aja bisa begitu kaya filosofi ya, Mom.
    Keren dan informatif artikelnya. Semoga menang, ya Mom! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir mom.

      Budaya kita luar biasa. Semoga kita dan anak cucu kita bisa melestarikannya :)

      Hapus